ððĪð§ðĐð§ððĐ ðŦððĢ ðððĢ ðððĢðŊðððĢðĄððð ð ðĒððĢ ðĐð ðĨððð§ð ðĒððĐ ðððŦðĪðĄð, ðŽððð§ðŦððĢ ÃĐÃĐðĢ ðððĢ ðĻðð§ðððĐððĻ ðð§ððððĐ, ððĢ ðððĢ ððĪð§ðĨ ðĪðĨ ð―ððĄð
Foto ini berjudul ððĪð§ðĐð§ððĐ ðŦððĢ ðððĢ ðððĢðŊðððĢðĄððð ð ðĒððĢ ðĐð ðĨððð§ð ðĒððĐ ðððŦðĪðĄð, ðŽððð§ðŦððĢ ÃĐÃĐðĢ ðððĢ ðĻðð§ðððĐððĻ ðð§ððððĐ, ððĢ ðððĢ ððĪð§ðĨ ðĪðĨ ð―ððĄð, menampilkan seorang pria terpandang di Bali yang menunggang kuda, didampingi oleh beberapa pengikutnya, salah satunya membawa sirihtas, tas khas untuk menyimpan sirih atau barang keperluan lainnya. Pria tersebut mengenakan pakaian adat dengan hiasan kepala dan memegang tedung (payung tradisional Bali), yang sering menjadi simbol status sosial atau kebangsawanan. Latar belakang foto menunjukkan lingkungan desa dengan rumah beratap alang-alang, mencerminkan suasana pedesaan Bali pada awal abad ke-20. Sumber: Collectie Tropenmuseum, TMnr 60048983, dengan periode pengambilan gambar antara tahun 1910 dan 1920.






%20(1)-min-min.jpg)

0 comments:
Post a Comment