Saturday, March 29, 2025

Mengapa Orang Melakukan Kejahatan ? Oleh: Margaretha Dosen Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

 Mengapa Orang Melakukan Kejahatan ?

Oleh: Margaretha
Dosen Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya




Link : https://psikologi.unair.ac.id/artikel-mengapa-orang-melakukan-kejahatan/

 

Apa yang menyebabkan sebagian individu bisa melakukan kekerasan, penipuan, dan merugikan orang lain sedang yang lain tidak melakukan kejahatan pada orang lain? Tulisan pendek ini akan mengulas definisi, bentuk dan beberapa penjelasan Psikologi yang sering digunakan untuk menjelaskan perilaku kejahatan


Definisi kejahatan

Ketika berbicara tentang kejahatan, sebenarnya banyak hal yang dapat diulas. Paling tidak dimulai dengan definisi kejahatan. Kejahatan sering diartikan sebagai perilaku pelanggaran aturan hukum akibatnya seseorang dapat dijerat hukuman. Kejahatan terjadi ketika seseorang melanggar hukum baik secara langsung maupun tidak langsung, atau bentuk kelalaian yang dapat berakibat pada hukuman. Dalam perspektif hukum ini, perilaku kejahatan terkesan aktif, manusia berbuat kejahatan. Namun sebenarnya “tidak berperilaku” pun bisa menjadi suatu bentuk kejahatan, contohnya: penelantaran anak atau tidak melapor pada pihak berwenang ketika mengetahui terjadi tindakan kekerasan pada anak di sekitar kita.

Adapula perspektif moral. Perilaku dapat disebut sebagai kejahatan hanya jika memiliki 2 faktor: 1) mens rea (adanya niatan melakukan perilaku), dan 2) actus reus (perilaku terlaksana tanpa paksaan dari orang lain). Contohnya: pembunuhan disebut kejahatan ketika pelaku telah memiliki niat menghabisi nyawa orang lain, serta ide dan pelaksanaan perilaku pembunuhan dimiliki pelaku sendiri tanpa paksaan dari orang lain. Jika pelaku ternyata memiliki gangguan mental yang menyebabkan niatnya terjadi diluar kesadaran, contoh: perilaku kejahatan terjadi pada saat tidur atau tidak sadar, maka faktor mens rea-nya dianggap tidak utuh, atau tidak bisa secara gamblang dinyatakan sebagai kejahatan, karena orang dengan gangguan mental tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas perilakunya (Davies, Hollind, & Bull, 2008).


Bentuk kejahatan

Selanjutnya, ketika membicarakan kejahatan kita juga perlu mengidentifikasi pelaku dan korban. Pelaku adalah orang yang melakukan tindakan melanggar hak dan kesejahteraan hidup seseorang, sedangkan korban adalah orang yang terlanggar hak dan kesejahteraan hidupnya. Pada kasus pidana, identifikasi akan berkaitan dengan pembuatan tuntutan dan pertanggungjwaban hukum. Walaupun begitu, terkadang tidak mudah mengidentifikasi pelaku dan korban, terutama pada kasus dimana pelaku adalah korbannya juga, contohnya: pelaku prostitusi sebenarnya juga adalah korban dari perilakunya.

Kejahatan secara umum dapat dibedakan dalam beberapa macam: kejahatan personal (pelaku dan korban kejahatan adalah sama), interpersonal (ada pelaku yang merugikan orang lain), dan kejahatan sosial masyarakat (efek kejahatan pelaku merugikan kehidupan orang banyak di masyarakat). Dari segi pelaksanaannya kejahatan juga bisa dibagi menjadi kejahatan terorganisir (sering disebut kejahatan “kerah putih” yang memiliki sistem dan perencanaan serta keahlian dalam melakukan kejahatan) dan tidak teroganisir (kejahatan yang dilakukan tanpa perencanaan dan dilakukan oleh orang yang belum punya keahlian khusus atau amatir). Secara pidana, ada beberapa contoh perilaku kejahatan: pembunuhan, tindak kekerasan, pemerkosaan, pencurian, perampokan, perampasan, penipuan, penganiayaan, penyalahgunaan zat dan obat, dan banyak lagi yang lain.


Teori kejahatan

Begitu banyaknya bentuk dan macam kejahatan, maka menarik untuk mengetahui apa hal yang menyebabkan orang bisa melakukan tindak kejahatan. Sebenarnya sejak dulu manusia berusaha menjelaskan mengapa beberapa orang menjadi penjahat. Penjelasan paling awal adalah Model Demonologi. Dulu dianggap bahwa perilaku kriminal adalah hasil dari pengaruh roh jahat. Maka cara untuk menyembuhkan gangguan mental dan perilaku jahat adalah mengusir roh kejahatan, biasanya dilakukan dengan beberapa cara menyiksa, mengeluarkan bagian tubuh yang dianggap jahat (misalkan darah, atau bagian organ tubuh lainnya).

Namun dalam kajian Psikologi Forensik, dikenal beberapa pendekatan teoritis yang digunakan untuk menjelaskan perilaku kejahatan: Kriminologi awal (Cesare Lombroso), Psikoanalisa (Sigmund Freud), dan Teori Bioekologi-Sosial.

Cesare Lombroso adalah seorang kriminolog Italia yang pada tahun 1876 menjelaskan teori ‘determinisme antropologi’ yang menyatakan kriminalitas adalah ciri yang diwariskan atau dengan kata lain seseorang dapat dilahirkan sebagai “kriminal”. Ciri kriminal dapat diidentifikasi dengan ciri fisik seseorang, contohnya: rahang besar, dagu condong maju, dahi sempit, tulang pipi tinggi, hidung pipih atau lebar terbalik, dagu besar, sangat menonjol dalam penampilan, hidung bengkok atau bibir tebal, mata licik, jenggot minim atau kebotakan dan ketidakpekaan terhadap nyeri, serta memiliki lengan panjang. Ia menyimpulkan juga kebanyakan kejahatan dilakukan oleh laki-laki. Perempuan yang melakukan kejahatan artinya terjadi degenarasi atau kemunduran. Ia berpandangan harusnya sikap pasif, kurangnya inisiatif dan intelektualitas perempuan membuatnya sulit melakukan kejahatan.

Sigmund Freud dalam perspektif Psikoanalisa memiliki pandangan sendiri tentang apa yang menjadikan seorang kriminal. Ketidakseimbangan hubungan antara Id, Ego dan Superego membuat manusia lemah dan akibatnya lebih mungkin melakukan perilaku menyimpang atau kejahatan. Freud menyatakan bahwa penyimpangan dihasilkan dari rasa bersalah yang berlebihan sebagai akibat dari superego berlebihan. Orang dengan superego yang berlebihan akan dapat merasa bersalah tanpa alasan dan ingin dihukum; cara yang dilakukannya untuk menghadapi rasa bersalah justru dengan melakukan kejahatan. Kejahatan dilakukan untuk meredakan superego karena mereka secara tidak sadar sebenarnya menginginkan hukuman untuk menghilangkan rasa bersalah.

Selain itu, Freud juga menjelaskan kejahatan dari prinsip “kesenangan”. Manusia memiliki dasar biologis yang sifatnya mendesak dan bekerja untuk meraih kepuasan (prinsip kesenangan). Di dalamnya termasuk keinginan untuk makanan, seks, dan kelangsungan hidup yang dikelola oleh Id. Freud percaya bahwa jika ini tidak bisa diperoleh secara legal atau sesuai dengan aturan sosial, maka orang secara naluriah akan mencoba untuk melakukannya secara ilegal. Sebenarnya pemahaman moral tentang benar dan salah yang telah ditanamkan sejak masa kanak harusnya bisa bekerja sebagai superego yang mengimbangi dan mengontrol Id. Namun jika pemahaman moral kurang dan superego tidak berkembang dengan sempurna, akibatnya anak dapat tumbuh menjadi menjadi individu yang kurang mampu mengontrol dorongan Id, serta mau melakukan apa saja untuk meraih apa yang dibutuhkannya. Menurut pandangan ini, kejahatan bukanlah hasil dari kepribadian kriminal, tapi dari kelemahan ego. Ego yang tidak mampu menjembatani kebutuhan superego dan id akan lemah dan membuat manusia rentan melakukan penyimpangan.

Dari perspektif Belajar Sosial, Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku kejahatan adalah hasil proses belajar psikologis, yang mekanismenya diperoleh melalui pemaparan pada perilaku kejahatan yang dilakukan oleh orang di sekitarnya, lalu terjadi pengulangan paparan yang disertai dengan penguatan atau reward; sehingga semakin mendukung orang untuk mau meniru perilaku kejahatan yang mereka lihat. Contohnya: jika anak mengamati orang tuanya mencuri dan memahami bahwa mencuri uang menimbulkan reward positif (punya uang banyak untuk bersenang-senang); maka anak akan mau meniru perilaku mencuri. Di sisi lain, perilaku yang tidak diikuti dengan reward atau menghasilkan reaksi negatif maka anak belajar untuk tidak melakukan; atau dengan kata lain meniru untuk tidak mengulangi agar menghindari efek negatif. Dalam perspektif ini, Bandura percaya bahwa manusia memiliki kapasitas berpikir aktif yang mampu memutuskan apakah akan meniru atau tidak mengadopsi perilaku yang mereka amati dari lingkungan sosial mereka.

Teori Sosial menjelaskan bahwa perilaku kejahatan adalah hasil kerusakan sistem dan struktur sosial. Seorang penjahat dari keluarga yang bercerai, mengalami masa kecil yang sulit, hidup di lingkungan sosial yang miskin dan banyak terjadi pelanggaran hukum, tidak memiliki pendidikan yang baik, memiliki gangguan fisik dan mental dan berbagai kesulitan psikososial lainnya. Dalam perspektif ini, kesannya individu dilihat sebagai pasif bentukan sistem di sekelilingnya. Namun sebenarnya pada pendekatan Bioekologis oleh Urie Brofenbenner, terdapat interaksi faktor personal (si individu itu sendiri, termasuk di dalamnya aspek kepribadian, trauma, aspek biologis) dengan faktor sistem sosial di sekelilingnya. Artinya perilaku kejahatan akan muncul sebagai interaksi antara faktor personal dan faktor lingkungan yang harus dapat diidentifikasi. Contohnya: seseorang yang memiliki gangguan kepribadian, pernah mengalami pola pengasuhan traumatis dan saat ini hidup di lingkungan yang tidak peduli hukum dapat membuatnya lebih mudah melakukan kejahatan.


Apakah semua kejahatan harus diperlakukan sama?

Kejahatan memiliki bentuk yang berbeda-beda. Bahkan perilaku kejahatan yang sama dapat didasari oleh alasan yang berbeda. Misalkan perlaku mencuri, seorang melakukannya untuk bertahan hidup, sedang yang lain untuk mencari uang sebanyak mungkin agar bisa menghindari pekerjaan sesedikit mungkin. Berbagai penjelasan teori kejahatan di atas dapat digunakan untuk memahami kasus-kasus kejahatan. Mengapa dan bagaimana perilaku kejahatan dapat muncul dalam suatu kasus kejahatan. Kepekaan dan keahlian dalam memilah-milah perspektif teori dalam menjelaskan kejahatan sangat dibutuhkan dalam mencari titik terang suatu kasus kejahatan. Dengan pemahaman tersebut, harapannya, juga bisa dipahami bagaimana masing-masing harus diperlakukan dan diberikan konsekuensi hukum serta rehabilitasi psikologisnya. Proses koreksi dan rehabilitasi perilaku kejahatan sebaiknya dilakukan berdasarkan penjelasan perilaku kejahatan yang akurat dan tepat.


Referensi:

Davies, G., Hollin, C., & Bull, R. (2008). Forensic Psychology. John Wiley; Sussex.

Related posts:

Pengaderan Tahap Pembinaan - Psycho Experientia Day 2022

Studi Banding Eksternal Bersama DEMA FPK UINSA

Pengaderan Tahap Penerimaan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru 2023

Team Building Anggota Kabinet Arus Aktualisasi BEM KM Psikologi UNAIR


Jangan Banyak Bicara Denganku Tentang Agama. Tetapi Izinkan Aku Melihat Agama Dalam Perilakumu. (Leo Tolstoy)

Jangan Banyak Bicara Denganku Tentang Agama. Tetapi Izinkan Aku Melihat Agama Dalam Perilakumu.

(Leo Tolstoy)





Leo Tolstoy adalah seorang penulis, filsuf, dan aktivis sosial asal Rusia yang dianggap sebagai salah satu tokoh sastra terbesar dalam sejarah. Lahir pada 9 September 1828, ia dikenal karena karya-karyanya yang mendalam, seperti *War and Peace* (Perang dan Damai) dan *Anna Karenina*. Tolstoy menulis tentang tema-tema besar seperti moralitas, kebebasan, dan pencarian makna hidup. Ia juga mengembangkan pandangan filosofis dan religius yang mendalam, yang kemudian mengarah pada ajaran-ajaran tentang hidup sederhana dan non-kekerasan. Selain menulis, Tolstoy terlibat dalam kegiatan sosial dan reformasi, sering mengkritik ketidakadilan sosial dan memperjuangkan hak-hak petani.


Jangan Banyak Bicara Denganku Tentang Agama. Tetapi Izinkan Aku Melihat Agama Dalam Perilakumu.

(Leo Tolstoy)







“Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari dari agama dan kedudukannya saling menguatkan“  – KH Hasyim Asy’ari

 “Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari dari agama dan kedudukannya saling menguatkan“


 – KH Hasyim Asy’ari





Friday, March 28, 2025

Camille Claudel

 Camille Claudel




Camille Rosalie Claudel (pengucapan bahasa Prancis: [kamij klodɛl]; 8 December 1864 – 19 October 1943) adalah seorang pematung Prancis yang dikenal karena karya figuratifnya dalam perunggu dan marmer. Dia meninggal dalam ketidakjelasan relatif, tetapi kemudian mendapatkan pengakuan atas orisinalitas dan kualitas karyanya. Subjek dari beberapa biografi dan film, Claudel terkenal dengan patung-patungnya termasuk The Waltz dan The Mature Age.

Museum Camille Claudel nasional di Nogent-sur-Seine dibuka pada tahun 2017. Claudel adalah rekan lama pematung Auguste Rodin, dan Musée Rodin di Paris memiliki ruangan yang didedikasikan untuk karya-karyanya.


Patung-patung yang dibuat oleh Claudel juga disimpan di koleksi beberapa museum besar termasuk Musée d'Orsay di Paris, Institut Seni Courtauld di London, Museum Nasional Wanita dalam Seni di Washington, DC, Museum Seni Philadelphia, dan J. Museum Paul Getty di Los Angeles.



Camille Claudel

Lahir pada tahun 1864, meninggal pada tahun 1943 - dikantor oleh dunia, dibiarkan merana di rumah sakit jiwa.

Apa ceritanya ?

Dia datang ke Paris untuk belajar seni pada saat École des Beaux-Art yang bergengsi hanya terbuka untuk pria.

Tidak terpengaruh, dia bergabung dengan studio yang menyambut wanita.

Di sana, dia bertemu dan menjadi pencinta pematung terkenal Auguste Rodin.

Hubungan mereka adalah salah satu hasrat berapi -api dan kesenian bersama - mereka diciptakan berdampingan, jenius kolaboratif mereka yang dilestarikan dalam karya -karya yang ditempatkan hari ini di Museum Rodin dan Musée d'Orsay.

Tapi Rodin, yang sudah terjerat dalam hubungan lama dengan wanita lain, akhirnya meninggalkan Camille.

Ketika reputasinya melonjak, miliknya anjlok.

Dia dicemooh, dijauhi, dan diberhentikan - bukan hanya sebagai kekasih tetapi sebagai seorang seniman. Sendirian, tidak mempercayai, dan tidak disukai, dia berjuang untuk menjual karya -karyanya.

Menambah isolasi, kakaknya, penyair dan diplomat terkenal Paul Claudel, memainkan peran penting dalam kejatuhannya. Camille, dipandang sebagai "terlalu modern" dan sumber rasa malu keluarga, secara paksa dilembagakan oleh keluarganya.

Selama 30 tahun, ia berjuang untuk menjelaskan ketidakadilan dari kurungannya, menulis surat -surat yang sedih kepada teman dan keluarga, memohon untuk dibebaskan. Kejelasan dan kesedihannya beresonansi dalam tulisan -tulisan yang diawetkan ini.

Pada 19 Oktober 1943, Camille Claudel meninggal karena kekurangan gizi di rumah sakit Prancis.

Tidak ada anggota keluarga yang menghadiri pemakamannya, dan tubuhnya dimakamkan di kuburan yang sama.

Beberapa dekade kemudian, dunia akhirnya mengakui kecemerlangannya. Warisannya telah dipulihkan: patung -patungnya sekarang berdiri dengan bangga di samping Rodin, dan sebuah museum di dekat Paris sepenuhnya didedikasikan untuk pekerjaannya.

Camille Claudel tidak lagi dilupakan. Dia merasa terhormat sebagai visioner yang selalu dia lakukan.


Hasil karyanya :







ساحر ألماني يتحدي القرآن الكريم..مرعب ..

 ساحر ألماني يتحدي القرآن الكريم..مرعب ..





Ayat kursi :




Thursday, March 27, 2025

Ukuran Sejati Dari Seseorang Adalah Apa Yang Dia Lakukan Ketika Tidak Ada Yang Melihat (John Wooden)

Ukuran Sejati Dari Seseorang Adalah Apa Yang Dia Lakukan Ketika Tidak Ada Yang Melihat 

(John Wooden)





Kutipan dari John Wooden ini mengingatkan kita bahwa karakter sejati seseorang tidak diukur dari perilaku yang tampak di depan umum, tetapi dari tindakan mereka ketika tidak ada pengawasan atau perhatian. 


Ini menggugah kita untuk mempertanyakan sejauh mana kita tetap berpegang pada nilai-nilai kita ketika tidak ada yang memantau atau menilai.


Menurut kamu, apakah benar bahwa tindakan kita saat tidak ada yang melihat mencerminkan siapa kita sebenarnya? 


Apakah mungkin seseorang bisa berperilaku baik hanya untuk mendapatkan pujian atau perhatian orang lain, sementara tindakan sebenarnya berbeda?


Pernahkah kamu mengalami situasi di mana kalian merasa diuji untuk melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang akan tahu atau melihat? 


Apa yang membuat seseorang tetap berpegang pada integritas dan nilai-nilai mereka, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi?


Apa pendapat kamu tentang pentingnya menjaga konsistensi antara tindakan kita di depan umum dan di belakang layar? 


Bagaimana kita bisa melatih diri untuk selalu melakukan yang benar, tanpa mengharapkan pengakuan?


Ukuran Sejati Dari Seseorang Adalah Apa Yang Dia Lakukan Ketika Tidak Ada Yang Melihat 

(John Wooden)



John Robert Wooden (14 Oktober 1910 – 4 Juni 2010) adalah seorang pemain bola basket Amerika Serikat dan pelatih kepala di Universitas California di Los Angeles. Dijuluki "Wizard of Westwood,". Ia memenangkan sepuluh kejuaraan nasional NCAA dalam periode 12 tahun sebagai pelatih kepala di UCLA, termasuk rekor tujuh berturut-turut. Tidak ada tim lain yang memenangkan lebih dari empat berurutan di basket perguruan tinggi divisi 1 pria atau wanita. Tim Connecticut wanita divisi 1 menempati posisi kedua setelah tim UCLA putra dengan empat berturut-turut. Dalam periode ini, timnya memenangkan pertandingan bola basket putra NCAA 88 pertandingan berturut-turut. Wooden dinamai pelatih nasional terbaik enam kali. Dia juga memenangkan Helms National Championships (yang diputuskan oleh jajak pendapat) di Purdue sebagai pemain 1931-1932 untuk total 11 gelar nasional, sebuah prestasi yang hanya disamai dengan Geno Auriemma bola basket wanita NCAA.


Prestasi dan pencapaian karier

Sebagai pemain :

- Helms and Premo-Porretta National championships (1932)


Sebagai pelatih :

- 10× NCAA Division I Tournament (1964, 1965, 1967–1973, 1975)

- 12× NCAA Regional – Final Four (1962, 1964, 1965, 1967–1975)


Sebagai seorang Guard bertinggi badan 5'10 " (178 cm), Wooden merupakan pemain pertama yang dinamai Basketball All-American sebanyak tiga kali, dan pada tahun 1932 tim Purdue dimana Ia bermain sebagai pemain senior adalah secara retroaktif diakui sebagai juara turnamen nasional pra - NCCA oleh Helms Athletic Foundation dan Premo-Porretta Power Poll. Wooden dilantik menjadi anggota Basketball Hall of Fame sebagai seorang pemain (1960) dan sebagai pelatih (1973), orang pertama yang pernah diabadikan dalam kedua kategori. Lenny wilkens, Bill Sharman dan Tommy heinsohn adalah pemain basket lain yang hanya mencapainya sejak dilaksanakan penghormatan yang sama.




Silat Beksi

Silat Beksi

Silat Beksi adalah salah satu aliran silat yang bertumpu pada teknik pukulan (Betawi: maen pukulan). Aliran ini awalnya dikembangkan oleh masyarakat dari daerah Kampung Dadap, Kecamatan Kosambi, Tangerang dan Penemu aliran ini adalah Lie Tjeng Hok (1854-1951), seorang keturunan Tionghoa dari keluarga petani. Nenek moyangnya diperkirakan berasal dari Amoy (Xiamen), Tiongkok. Ia menggabungkan ilmu bela diri keluarganya dengan ilmu dari guru-guru Betawi, dan mengajarkannya kepada para murid Betawi pesisir dan orang Tionghoa Benteng di sekitar Kampung Dadap. Di kemudian hari, aliran silat ini juga menyebar ke daerah Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, dan daerah Batujaya, Batuceper, Tangerang.




Wednesday, March 26, 2025

Dokumen Foto Londo (Belanda) merayakan kemerdekaan Israel di surabaya, 1948

 Dokumen Foto Londo (Belanda) merayakan kemerdekaan Israel di surabaya, 1948




DIEN TAMAELA (Gadis Ambon yang menjadi Inspirasi Lahirnya Karya Puisi Penyair Chairil Anwar yang Berjudul BETA PATTIRADJAWANE - Cerita Buat Dien Tamaela)

 DIEN TAMAELA

(Gadis Ambon yang menjadi Inspirasi  Lahirnya Karya Puisi Penyair Chairil Anwar yang Berjudul BETA PATTIRADJAWANE - Cerita Buat Dien Tamaela)






Beta Pattirajawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu

Beta Pattirajawane

Kikisan laut

Berdarah laut

Beta Pattirajawane

Ketika lahir dibawakan

Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.

Beta api di pantai. Siapa mendekat

Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari

Menurut beta punya tifa,

Pohon pala, badan perawan jadi

Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!

Mari beria!

Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah

Beta bikin pala mati, gadis kaku

Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang

Irama ganggang dan api membakar pulau....

Beta Pattirajawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu.


(1946)


Puisi Cerita Buat Dien Tamaela menyimpan banyak cerita. Salah satunya dalam puisi tersebut adalah kisah tentang pohon pala. Chairil memang tidak pernah menjelajahi kebun pala karena penyair tidak pernah menginjakkan kaki ke Maluku. Namun puisinya telah mengabadikan pala secara utuh dan penuh daya magis. Dalam Puisi tersebut, Pertama kali muncul pala pada bait keempat dan tercatat tiga kali terdapat kata pala.


Negeri rempah-rempah itulah sebutan dari Maluku, the Spice Islands, kota yang begitu identik dengan cengkih dan pala. Dalam lazimnya penyebutan orang menyebut cengkih barulah pala. Dalam konteks cengkih memang lebih dominan di Maluku, karena Pohon cengkih lebih banyak dan gampang ditemukan di pulau ketimbang pala. Tapi dalam puisi Chairil, dia tidak menggunakan simbolisme cengkih melainkan pala. Hutan pala, pohon pala, dan pala. Namun simbolisme pala tidak muncul begitu saja. Tetapi, sebagai penyair memiliki kemerdekaan kreatif untuk memunculkan apapun.


TENTANG PERKENALAN CHAIRIL DAN DIEN TAMAELA

Seseorang telah bercerita kepada media tentang Chairil Anwar dan Dien Tamaela Semasa muda dia adalah Tokoh masyarakat Maluku Des Alwi (82), , Des berkawan dengan dua tokoh tersebut. Perjumpaan mereka bermula dari rumah Sutan Syahrir di Jalan Damrin Jakarta, yang kini menjadi Jalan Latuharhary.

Des Merupakan anak angkat Sutan Syahrir, Des datang dari Banda Neira dan tinggal di rumah Sutan Syahrir. Di rumah itulah, Des berjumpa dengan Chairil. Sebagai sesama orang Padang, Ibunda Chairil yakni Saleha, punya hubungan kerabat dengan Bung Kecil, julukan Sutan Syahrir. Sebab itu Des dan Chairil ditempatkan pada satu kamar yang sama. “Beta satu kamar dengan Nini. Chairil itu disapa Nini. Katong dua tidur sama-sama,” kenang Des.

Di kamar itulah, dua sahabat ini sering terlibat diskusi. Chairil sangat berminat pada kisah-kisah tentang Maluku. Des mengaku selalu bercerita tentang Bandaneira, tentang perkebunan pala, serta juga tentang hal-hal gaib. “Beta cerita tentang orang-orang alus (makluk halus) dan Nini antusias sekali. Tidak heran puisi Cerita Buat Dien Tamaela menjadi seperti itu,” kata Des. Sedangkan perkenalan dengan Dien juga terjadi karena rumah keluarga dr Tamaela memang tidak jauh dari rumah Sutan Syahrir. Sebagai tetangga, mereka sudah biasa saling berkunjung. Des akui, Chairil memang berkawan akrab dengan Dien. Hanya saja soal hubungan Chairil dan Dien, menurut Des, tidak sampai pada hubungan asmara. Tapi Des akui hubungan Chairil dan Dien sangat akrab. Hal itu bisa dilihat ketika Dien harus menjalani operasi usus buntu di Yogyakarta, Des dan Chairil jauh-jauh datang menjenguk di rumah sakit. Keduanya bahkan iseng meminta izin dokter agar bisa mengajak Dien jalan-jalan. “Dokter itu menjawab, tunggu saja kalau Dien sudah bisa kentut,” cerita Des sambil tertawa lebar. Des sendiri sempat menulis pengalaman bersama Chairil dalam sebuah bukunya “Friends and Exiles: A Memoir of the Nutmeg Isles and the Indonesian Nationalist Movement” yang diterbitkan Cornell University. Des mengakui bahwa Chairil adalah seorang seniman yang urakan tapi sosok mengagumkan.




Tampak Candi Borobudur & Gunung Merapi, Magelang, Indonesia

 Tampak Candi Borobudur & Gunung Merapi, Magelang, Indonesia 





PASANG SURUT BATAK

 PASANG SURUT BATAK




Mengapa pejelajah dan penjajah menyebut Karo sebagai Batak? Ratusan tahun sebelum ditulis pertama kali sebagai Karau-Karau oleh William Marsden thn 1783, dilanjutkan oleh John Anderson 1823. Sebelum itu praktis semua disebut Batak saja. Itu berlangsung berabad-abad lamanya. Dunia ini berkembang peradaban manusia juga tak ketinggalan. Populasi meningkat, pengetahuan bertambah, migrasi manusia semakin jauh, dan perbedaan semakin melebar. 


Batak sedia-kala dipahami hanya satu, kemudian berkembang menjadi Karo, Toba, Pakpak, Simalungun dan Mandailing/Angkola. Awalnya Kluet, Singkel, Gayo sempat digolongkan sebagai Batak, namun sultan Aceh yg dominan mempengaruhi budaya di sana dan merga-merga disana tidak berkembang spt di wilayah Batak lainnya


Kian jauh perjalanan waktu, Batak yg lima kemudian satu-satu malah ingin keluar dengan nada 'sedikit' kecewa karena dewasa ini Batak identik dengan Toba dan Toba tenggelam ditelan oleh Batak. Orang Toba lebih familiar menyebut diri sebagai Batak ketimbang Toba, sehingga yg lain merasa 'dikacangin' sehingga mundur satu-satu. Awalnya dilakukan Mandailing thn 1922 karena persoalan tanah kuburan. Karo juga mulai merasa diusik soal budayanya. Di acara Berpacu Dalam Melodi Koes Hendratmo dibilang lagu Oh Turang lagu Batak. Banyak yg protes itu lagu Karo. Di tambah lagi tahura di Tongkeh mau diberi nama Tahura SM Raja, makin ramai Karo yang protes. Akhirnya muncul semacam gerakan Karo Bukan lagi Batak di awal tahun 2000-an.


Pak-pak juga demikian merasa terasing di Tanah ulayat sendiri. Kasus pelecehan suku baru-baru ini meluas menjadi demo. Stiker di salah satu minimarket juga dicopoti merasa tidak susuai dengan kearifan lokal. Entah di Simalungun, namun segelintir org di media sosial memang sdh lantang menyatakan diri bukan Batak. Barangkali sengketa Tanah Ulayat di kabupaten Simalungun sempat mencuat hingga petinggi tokoh masyarakat Simalungun berkomentar, tidak ada tanah Ulayat di Simalungun, semua milik raja, katanya.


Tinggal Toba sendiri yg dengan nada 'bangga' senantiasa memperkenalkan diri sebagai Batak. Sehingga lagu Batak, bahasa Batak, adat Batak, aksara batak, ulos Batak, Tano Batak semua mengacu ke Toba. Malah Toba hilang ditelan Batak. 


Padahal dedengkot Jong Batak Bond adalah orang-orang dari Mandailing, gereja terbesar di Karo masih terdaftar di Depdagri dan Depag masih menggunakan kata Batak. Gereja Simalungun dan Pakpak merupakan mekar dari HKBP. Namun pelan-pelan rumpun di Batak merasa tak satu rasa lagi. Aku begini engkau begitu, biarkanlah... Au ah gelap....


Karo Batakman 

Koleksi perpustakaan KITLV, Leiden.

Tuesday, March 25, 2025

BAHASA NUSANTARA KUNO ADALAH IBU DARI BAHASA SANSEKERTA DAN SANSEKERTA BUKAN DARI INDIA

 BAHASA NUSANTARA KUNO ADALAH IBU DARI BAHASA SANSEKERTA DAN SANSEKERTA BUKAN DARI INDIA





Kajian tentang Ibu bahasa dunia akhirnya merujuk pada akar bahasa yang masih digunakan disebagian daerah di Indonesia Nusantara.


Mari kita simak dengan membacanya hingga tuntas.


Bahasa "Sansekerta" adalah bahasa bangsa Nusantara, Indonesia maju terdahulu, bukan bahasa dan berasal dari "lndia" saat ini...


Salah kaprah dan propaganda "Kolonialis", telah menjadikan bangsa ini seolah hanya menjadi bangsa pengimport "Budaya" dan "Bahasa" bangsa lain 


Saat menjajah....negri ini dinamai "Hindia Belanda" ...hanya dengan satu huruf..."H" hilang...sempurnalah... kata "india"...itu menjadi anggapan sumber budaya dan bahasa bangsa Nusantara..dan kita #HANYA diam.


Perhatikan :


Bahasa "Sansekerta" telah lama ada di Nusantara sejak ribuan tahun lalu di pergunakan leluhur kita, literasi kata "bahasa" (bhāṣa) itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta berarti "logat bicara" ini asli bahasa kita


Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth(1620–1668), Johann Ernst Hanxleden(1681–1731)


Sir William Jones, berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata:


“..Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunaannya, memiliki struktur yang menakjubkan...lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin, lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya...baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa...yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan, sangat eratlah keterkaitan, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya...tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada.."


...muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada.."..kata kata terakhir William Jones ini membuktikan sumber "Sansekerta" itu bukan berada di tempat ia berceramah saat itu, yaitu India.


Dalam bahasa Indonesia saat ini ada sekitar 800 kata-kata dari bahasa Sanskerta antara lain :(cintā):cinta, agama (āgama), antariksa (antarikṣa), (arcā) patung, bahaya (bhaya), bejana (bhājana), bidadari (vidyādharī), Buddha (buddha) seseorang yang telah sadar, dsb...


Kata-kata ini ada yang diserap langsung dari bahasa aslinya,yang terserap dari bahasa Jawa dipakai sebagai pembentukan kata-kata baru disebut "Neologisme"...


...ing bausastrané Jawa Kuna kurang dari 50% dari itu,bauwarnané, asalé saka basa Sangskreta...


Catatan "Mainstream" saat ini tentang Sansekerta adalah terpublikasi nama "Panini" kemudian Devanagari, Bahasa Brahmin lebih tua lagi "Aramik"..itulah sumber sansekerta...benarkah..?


● Pāṇini, orang Pakistan pertama kali menulis tentang tata bahasa Sanskerta yang berjudul Aṣṭādhyāyī, buku tata bahasa Sanskerta karyanya ini memuat 3.959 hukum bahasa Sanskerta ditulis abad ke-5 SM


● Aksara Devanāgarī/dari bahasa Sanskerta "Kota Dewa" Aksara ini muncul dari aksara "Brahmi" dan mulai dipergunakan pada abad ke-11


● Aksara Brahmi, Aksara ini ditulis dari kiri ke kanan,menurut hipotesis aksara ini berdasarkan huruf "Aramea" digunakan Raja Asoka 270 SM - 232 SM


● Abjad/Bahasa Aramaik adalah yang dipakai masyarakat Aram, yang tinggal di daerah sekitar Mesopotamia/Siria, sekitar abad ke-10 SM, Kekaisaran Akhemenid 331 SM, Aram Kuno 500 SM, berubah menjadi Aram Imperial/bahasa kekaisaran


Perhatikan : 

Semua yang di anggap sumber abjad/bahasa paling tua adalah thn 500 SM, Sementara di Nusantara jauh sebelum tahun itu telah berdiri tempat belajar ilmu pengetahuan, setingkat Pusat Universitas di antaranya ilmu bahasa ...."Sansekerta"


Tempat belajar setingkat Pusat Universitas bernama "Dharma Phala" di svarnadvipa di bangun sebelum "Nalanda" di Bihar India thn 427 M


Tokoh Dharmapala 670-580 SM lahir di Svarnadvipa adalah murid Dharmadasa, guru Dharmakirti dan guru-guru lainnya pelopor ajaran "Dharma/Dhamma" di tanah india


Jadi...Bahasa "Sansekerta" adalah bahasa asli Nusantara, di pelajari dan di pakai oleh leluhur kita menyebar ke 3/4 muka bumi bersamaan dengan penyebaran falsafah ajaran "Dharma/Dhamma", yang mendasari tumbuhnya 3 Agama besar di India...


Kita lah yang mewarnai India, dan #BUKAN sebaliknya, di tandai dengan bahasa "Sansekerta" dan falsafah dasar utama.."Dharma/Dhamma"...


Sementara kajian lainnya menyebut, bahwa Sansekerta adalah bahasa turunan dari bahasa Nusantara Kuno yang terjadi karena perkembangan budaya di Indonesia Nusantara Kuno masa itu.


Shyama Rao (1999) menulis buku-elektronik berjudul “The Anti-Sanskrit Scripture” dan dipajang di perpustakaan maya Ambedkar– yang sekarang sudah dihapus. Rao mengkritisi anggapan akademis bahwa bahasa Sansekerta adalah induk semua bahasa di Asia Selatan bahkan sampai Eropa Barat, demikian juga aksara Deva Nagari yang diakukan berasal dari negeri para dewa.

Rao menjelaskan banyak kelemahan bahasa Sansekerta dan aksara Deva Nagari. Bahasa Sansekrta yang sejak jaman kuno dipropagandakan oleh bangsa Aryan sebagai bahasa suci dan Bahasa Dewata serta induk bahasa-bahasa di Hindustan, bahasa Persia, Inggris dan Jerman itu mengandung kerumitan tatabahasa dan memiliki terlalu banyak karakter (alphabets). Rao membuat daftar perbandingan jumlah karakter bahasa-bahasa primitif (Sansekrta digolongkan primitif), sebagai berikut:

• Cina-Ming 40,545

• Cina-Sung 26,194, 

• Cina-Han 9,353, 

• Sumeria 1,200, 

• Sansekrta 509, dan 

• Heroglif Mesir 70 karakter.


Memang jauh lebih banyak jumlah karakter Cina atau Sumeria, namun di bahasa-bahasa itu setiap karakter mewakili satu makna grammatical suatu kata atau morpheme. Sedang dalam bahasa Sansekrta satu aksara Deva Nagari hanya melambangkan bunyi, cara baca, perubahan bentuk kata dan lain-lain aturan grammatical yang sangat rumit. Agak mirip dengan huruf-huruf Timur-Tengah seperti Hibrani dan Arab tetapi jauh lebih rumit. Belum lagi tatabahasanya yang tidak konsisten sebagai kelompok bahasa daratan Asia Selatan ke Barat. Bahasa Sansekrta tidak membedakan jenis kelamin, tidak mengenal “tenses”, tidak ada konsep “tunggal dan jamak”, serta tidak ada partikel, tetapi banyak sinonim dan homonim yang mirip dengan kelompok bahasa Nusantara. Anehnya kosa-kata bahasa Sansekreta banyak yang mirip bahasa-bahasa Asia Selatan, Asia Barat hingga Eropa Barat.

Kesimpulannya, bahasa Sansekrta dan aksara Deva Nagari adalah “rakitan” dari berbagai bahasa. Dia dirakit dengan menyampur atau menyomoti kosa-kata dan cara tulis berbagai bahasa yang ada di Daratan Hindustan ditambah dengan bahasa-bahasa pendatang dengan logat bangsa Aryan. Ini juga dibuktikan bahwa penutur aktif bahasa Sansekrta pada tahun 1921 tinggal sekitar 356 orang di seluruh India, Pakistan dan Bangladesh (sekarang), dan pada sensus tahun 1951 hanya ada 555 orang penutur Sansekreta dari 362 juta penduduk India.


Bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Indonesia justru mengandung sekitar 50% kosa kata Sansekrta. Jangan-jangan justru orang Aryan menyomot sebagian bahasanya dari Bahasa Nusantara sebagai bagian bahasa rakitannya. Karena secara praktis, justru penutur Sansekreta itu jauh lebih banyak di Nusantara dibanding penutur di India. Apalagi orang Aryan sendiri justru memakai bahasa Hindi. Bukti paling telak adalah bahwa belum diketemukan satupun naskah kuno berbahasa Sansekrta dengan aksara Deva Nagari di India sebelum tahun 500 Masehi!


Bahasa yang dianggap dan dipropagandakan sebagai bahasa dewata, terbukti sebagai bahasa rakitan minoritas “penguasa” Hindustan. Sayangnya, propaganda Sansekrta sebagai induk bahasa-bahasa terlanjur mendarah daging bersamaan dengan banjir bandang imperialisme dan kolonialisme sebagai sumber anthropologi. 


Teori Sansekrta Induk Bahasa (TSIB) terlanjur bercokol di memori intelektual sejarah, lingusistik dan sosial. Bahkan meracuni beberapa ahli komputer hingga pernah ada pendapat “Bahasa Sansekrta paling afdol untuk program komputer, karena mewakili banyak bahasa besar di dunia” tanpa dipertimbangkan kerumitan penulisan yang digunakan dan ketidakkonsistenan tatabahasanya. Justru bahasa komputer yang melanglang jaringan “artificial intelligent” bernama “Java Script” yang konon karena “fleksibelnya” the Javanese.


Seorang agronomist dari Haryana University, Profesor Ashok Kumar, sangat heran dengan bahasa Indonesia. Pertama dia heran sewaktu diberitahu bahwa “language” itu “bahasa”. Dia heran, karena di bahasa Hindi dan Bengali, “language” adalah “bhasa”. Dia lebih heran lagi ketika  dalam bahasa Jawa berbunyi “boso”. Dia bingung, dari mana istilah “bhasa, boso, dan bahasa” itu berasal. Dia sebagai orang Hindu justru tidak merujuk Sansekrta, malah menduga dari bahasa Arab atau Urdu. Jika istilah “bhasa” itu, kalau benar-benar dari Sansekrta, mestinya di Persia, Jerman, Inggris, Latin, Yunani, juga mirip paling tidak ada konsonan “bhs”, tetapi kok jadi “lingua”?


Keheranan Prof. Kumar kedua adalah tentang jumlah bahasa di Indonesia yang ratusan, tetapi memiliki satu bahasa Indonesia yang dapat diterima oleh hampir semua orang Indonesia, karena antara bahasa Jawa, Sunda dan Bali itu banyak mengandung kosa-kata Kawi, sedang hampir 80% kosa kata bahasa Melayu asli punya akar kata Kawi. Kenyataan itu sangat berbeda dengan negerinya, India. Negerinya punya keragaman ekologi dan ekosistem yang spektakuler. Mulai dari yang bersalju abadi (Himalaya) sampai yang bergurun (Deccan dan Punjab). Dari yang daratan utuh (Hindustan) hingga kepulauan (Andaman). Maka Prof. Kumar berkhayal, seandainya India memiliki bahasa nasional yang bisa diterima oleh seluruh bangsa seperti Bahasa Indonesia, betapa kuat negaranya! Tetapi dia justru heran kepada Indonesia yang tidak maju-maju. “What’s wrong with the Indonesian?” katanya.


Ternyata dari Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia masih merupakan pengikat paling kuat persatuan dan kesatuan Indonesia . Bahasa konon merupakan salah satu ekspresi kebudayaan bangsa penuturnya. 


Sebuah artikel di majalah ilmiah populer HortScience menyebut tentang asal-usul tanaman “tales-talesan” yang ada di Oceania, Polynesia hingga Hawaii lalu menyebar ke Jepang, Cina dan Korea, yang diduga dulu-dulunya dibawa oleh penjelajah lautan kuno dari Nusantara sebagai “bekal” bahan makanan. Dan dugaan itu lebih ketika ada siaran NHK (TV Jepang) akhir tahun 2003 yang secara kebetulan membahas kebudayaan bangsa Hawaii. Di siaran itu ada tarian tradisional yang diucapkan oleh pembawa acara sebagai: “Kokonatsu no odori” (Tarian pohon kelapa) yang tulisan bahasa Hawaiinya ada kata “kalappa”. Nusantara telah punya bahasa yang satu, berarti budayanya juga satu.

Jadi, bahasa manakah yang bahasa Induk? Sansekrta atau bahasa-bahasa Nusantara yang diwakili oleh Bahasa Indonesia? Sayangnya bahwa dalam sejarah penyebaran manusia, bangsa Nusantara terlanjur dianggap sebagai pendatang dari Indo-Cina. Meskipun pada beberapa literasi tidak ditemukan sama sekali kosa kata Indonesia atau Jawa yang mirip dengan kosa kata Khmer atau Burma. Yang ada justru dulu raja-raja Kamboja memakai nama akhir Warman dan kebetulan pula salah seorang bangsawan dari daerah Pamalayu di Majapahit bernama Adityawarman. Sementara nama raja Kamboja sekarang justru Norodom Sihanouk yang sama sekali tidak mirip dengan satu pun kata Melayu, Jawa, Sunda dan Bali.


Semoga semua mahluk selamat dan bahagia 



Monday, March 24, 2025

LUKISAN PANGERAN DIPONEGORO

 LUKISAN PANGERAN DIPONEGORO




Seperti diketahui pada masa hidup Pangeran Diponegoro (1785-1855), tehnologi foto kamera belum ada, atau kalaupun sudah ada tentu belum sempat populer untuk digunakan.


Pada jaman itu, untuk menggambarkan wajah seseorang hanya melalui sketsa dari seorang pelukis.

Jadi gambar Pangeran Diponegoro yang familiar kita lihat bukanlan berdasar dari foto yang menampilkan wajah asli, tapi berdasarkan lukisan sketsa seorang pelukis porselen yang kebetulan sedang menjabat sebagai hakim kota yang bertugas mengawasi Pangeran Diponegoro ketika masih ditahan di penjara Stadhuis (Gedung Museum Fatahillah) Batavia, sebelum pemimpin perang Jawa tersebut divonis hukuman penjara di Fort Nieuw Amsterdam Manado dan penjara Fort Rotterdam Makassar.


Pelukis tersebut adalah Adrianus Johannes Jan Bik, seorang seniman lukis kelahiran Prancis.

Saat mengawasi Pangeran Diponegoro ditahanan, Jan Bik meminta sang Pangeran untuk bersedia dilukis.


Lukisan menggambarkan sketsa wajah Pangeran Diponegoro sesuai dengan keadaan pada waktu itu, dimana Pangeran yang bernama asli Raden Mas Ontowirjo tersebut tergambar dengan pipi yang cekung setelah sembuh dari penyakit Malaria tropis.


Pada lukisan tampak sang Pangeran memakai jubah dan penutup kepala bergaya Timur Tengah(Turki Utsmani) dengan sebilah keris yang terselip di dada.

Apakah pada saat dilukis, Pangeran Diponegoro memang menggunakan baju dan atribut yang sesuai pada lukisan? atau hanya imajinasi saja dari sang pelukis? atau mungkin ada maksud tertentu dari pihak kolonial?


Lukisan Pangeran Diponegoro tersebut saat ini tersimpan di Rijksmuseum Belanda setelah dihibahkan oleh sang pelukis.


Sumber narasi : media sejarah historia.id

Sumber foto : rijksmuseum.nl


Pikiran Kotor Tidak Dapat Menghasilkan Hidup Yang Bersih

Pikiran Kotor Tidak Dapat Menghasilkan Hidup Yang Bersih





Kualitas hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Jika seseorang dipenuhi oleh pikiran negatif, iri hati, kebencian, atau niat buruk, maka kehidupannya tidak akan bisa berjalan dengan baik, harmonis, atau bersih dari masalah.


Kutipan ini mencerminkan gagasan utama dalam bukunya As a Man Thinketh, yang menekankan bahwa pikiran seseorang membentuk realitasnya. Dengan menjaga kejernihan dan kebersihan pikiran, seseorang bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik dan bermakna.


Pikiran Kotor Tidak Dapat Menghasilkan Hidup Yang Bersih




Jenderal Mallaby

 Jenderal Mallaby




Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby (AWS Mallaby) tewas dalam baku tembak di Surabaya pada 30 Oktober 1945. Peristiwa ini terjadi di Gedung Internatio, dekat Jembatan Merah. 


Kronologi tewasnya Jenderal Mallaby

- Mallaby tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945 bersama Brigade 49. 

- Mallaby dan pasukannya berunding dengan pejuang rakyat untuk menghentikan tembakan. 

- Baku tembak berhenti, iring-iringan mobil Mallaby mulai pergi dari Gedung Internatio. 

- Pasukan Gurkha merasa tidak puas, kemudian menyiapkan tembakan diikuti granat di sekitar gedung. 

- Inggris mengabarkan bahwa Jenderal Mallaby telah tewas dalam baku tembak tersebut. 

- Dampak tewasnya Jenderal Mallaby

- Tewasnya Mallaby membuat pihak Sekutu marah. 

- Sekutu mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945 untuk meminta Indonesia menyerah pada esok harinya. 

- Pertempuran di Surabaya antara para pejuang kemerdekaan dan pasukan Sekutu memuncak pada 10 November 1945. 


Misteri penembak Mallaby 

- Banyak orang Indonesia mengaku sebagai penembak Mallaby.

- Klaim yang kemungkinan besar benar adalah Abdul Aziz. 

(Sumber : Wikipedia)




Saturday, March 22, 2025

Bangsa yang rendah dalam LITERASI akan selalu rendah dalam PERADABAN (Pramoedya Ananta Toer)

Bangsa yang rendah dalam LITERASI akan selalu rendah dalam PERADABAN 

(Pramoedya Ananta Toer)




Kutipan Pramoedya Ananta Toer ini mengajak kita untuk berpikir sejenak: sejauh mana literasi berperan dalam perkembangan suatu bangsa? 


Apakah literasi hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, ataukah ia lebih luas dari itu, melibatkan pemahaman, kritis, dan kemampuan beradaptasi dengan dunia yang terus berkembang?


Dalam konteks ini, apakah kamu merasa literasi di masyarakat kita sudah cukup baik untuk mendorong peradaban yang lebih maju? 


Apakah hanya pendidikan formal yang bisa meningkatkan literasi, atau ada cara lain, seperti pembelajaran mandiri dan akses ke berbagai sumber informasi yang bisa memperbaiki keadaan?


Menurut kamu, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita dalam hal literasi? 


Dan langkah konkret apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki literasi agar dapat mempercepat peradaban bangsa ini?


Bangsa yang rendah dalam LITERASI akan selalu rendah dalam PERADABAN 

(Pramoedya Ananta Toer)



Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman

Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman


Pelantikan panglima TNI pertama Jendral Soedirman di Yogyakarta pada tanggal 28 Juni 1947 

Sumber foto : IPPHOS






🇮🇩 Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman (EYD: Sudirman; 24 Januari 1916 – 29 Januari 1950 adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. 


Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk program kepanduan yang dijalankan Muhammadiyah. Ia juga menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi. Soedirman sangat dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian mengepalai sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, hingga kemudian diasingkan ke Bogor.



Friday, March 21, 2025

Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran akan terancam. (Wiji Thukul)

Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran akan terancam.

(Wiji Thukul)





Kutipan dari Wiji Thukul ini adalah peringatan keras tentang tanda-tanda bahaya dalam kehidupan berdemokrasi. Ketika rakyat tidak lagi berani mengeluh, itu bukan berarti keadaan baik-baik saja, melainkan menunjukkan bahwa rasa takut telah menguasai, bahwa ruang kebebasan telah menyempit. Dalam kondisi seperti itu, kekuasaan cenderung menindas, dan suara rakyat dibungkam—sebuah pertanda bahwa sesuatu yang gawat tengah terjadi dalam tatanan sosial dan politik.


Lebih jauh, ketika omongan penguasa tidak boleh dibantah, artinya penguasa telah menganggap dirinya pemilik kebenaran mutlak, padahal dalam masyarakat yang sehat, kekuasaan harus selalu bisa dikritik dan diawasi. Larangan untuk membantah adalah upaya memonopoli kebenaran, dan dari situlah kebenaran yang sejati justru terancam, karena tidak ada lagi ruang untuk diskusi, koreksi, dan perbaikan.


Pesan dari kutipan ini adalah bahwa kebebasan bersuara dan berpendapat adalah nyawa dari kebenaran dan keadilan. Bila rakyat bungkam karena takut, dan penguasa bebas dari kritik, maka kezaliman dengan mudah tumbuh. Wiji Thukul mengajak kita untuk terus bersuara, karena diam di tengah ketidakadilan adalah tanda bahwa kebebasan telah mati.


Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran akan terancam.

(Wiji Thukul)




WIJI THUKUL. Pagi ini di sejumlah WA Group beredar puisi tentang penyair Wiji Thukul yang hilang sampai sekarang. Ijinkan saya memajang di sini sebagai peringatan supaya sepatu lars tidak lagi menginjak-injak kebebasan masyarakat sipil. Uasuwoook 


Inilah puisi itu


hai, Prabowo

aku Wiji Thukul

aku ada di depanmu


kau mengenal aku kan

aku yang 26 tahun lalu

dihilangkan

diculik

bersama beberapa teman-teman dan kawan-kawan lainnya


aku kehilangan isteri dan anak-anak

kerabat, teman,

sahabat, kawan, keluarga

seperti kawan-kawanku yang lain

yang ditembak militerisme dan dihilangkan paksa,

tak lagi melihat lekuk senyum

dan canda gurau orang tuanya,

kakek dan neneknya,

adik dan saudaranya


hai, Prabowo

aku Wiji Thukul

masih ingatkah kau

siapa aku.?

aku yang pada usia mudaku

tahun-tahun 1997-1998, disibuki perjuangan

untuk bangsa ini

menjadi beradab dan manusiawi; ikut menggulingkan rezim otoritarianisme,

fasisme dan amat militeristik


hai, Prabowo

aku Wiji Thukul

aku-lah yang menjadi buron

karena menolak menjadi orang lain

karena ingin menjadi diri sendiri karena tidak mau cita-citaku diseragami

dengan sistem penindas

aku dikejar-kejar oleh Tim Mawar

yang dipimpin mu


kau telah tercatat: terduga pelaku pembunuh!


hai, Prabowo

aku Wiji Thukul

aku ada di depanmu

bercermin-lah terus

dengan keculasanmu

tetapi hari ini

aku kembali memburumu

seperti kutukan.!


aku tetap menjadi peluru

di mana-mana selalu bertanya,

meneriakimu,

di dalam seni lukis, musik, patung,

teatrikal, mural,

orasi dan bentangan sepanduk,

ya, di mana-mana aku selalu bertanya: DI MANA JASAD KU KAU BUANG.?


katakanlah.!

segera..!


atau, peluru ku

segera menyiapkan

barisan pemberontakan

akan menurunkan mu dengan paksa..!


            26 Januari, 2025.

            Puisi lentera merah. 


📸: KomikKita


#puisi #lentera #merah

#pemulung #cerita #jalanan


Sumber referensi :

https://www.facebook.com/815285815/posts/pfbid0UYwxYhLcLUmNtRvt7LYgYuzJEZBaTRkEt9qjT2V9ifTqJ29kEDZPaEDu8jo9RBe9l/?app=fbl



Siapa yang berani, dia akan menang. Siapa yang diam, dia selamanya dalam belenggu. (Multatuli, Eduard Douwes Dekker, Max Havelaar -1860)

Siapa yang berani, dia akan menang. Siapa yang diam, dia selamanya dalam belenggu.

(Multatuli, Eduard Douwes Dekker, Max Havelaar -1860)




Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang penulis Belanda yang mengguncang dunia kolonial dengan novel Max Havelaar (1860). Buku ini menjadi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam mengungkap ketidakadilan sistem tanam paksa di Hindia Belanda (Indonesia). Melalui tokohnya, ia menyuarakan penderitaan rakyat pribumi yang tertindas dan menegaskan bahwa ketidakadilan harus diperangi dengan keberanian dan kebenaran.


Multatuli dalam Max Havelaar menyoroti bagaimana sistem kolonialisme dan penindasan berjalan karena banyak orang memilih diam. Ia mengkritik bukan hanya penguasa yang zalim, tetapi juga mereka yang melihat ketidakadilan tanpa bertindak.


Inti dari pemikirannya: bahwa keberanian berbicara adalah senjata paling ampuh melawan penindasan. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan hanya terjadi ketika ada individu yang bersedia menentang ketidakadilan, meskipun harus menghadapi risiko besar.


Melalui kisah Max Havelaar, Multatuli menanamkan gagasan bahwa tidak ada kebebasan tanpa perlawanan, dan tidak ada kebenaran yang akan menang jika semua orang memilih diam.


Siapa yang berani, dia akan menang.

Siapa yang diam, dia selamanya dalam belenggu

 




KISAH PARAMESWARA / MEGAT ISKANDAR SYAH (1403-1424) PEMBANGUN KERAJAAN MELAYU MALAKA

 KISAH PARAMESWARA / MEGAT ISKANDAR SYAH (1403-1424) PEMBANGUN KERAJAAN MELAYU MALAKA

(Tulisan orang Cina dan Portugis lebih dapat dipertanggungjawabkan)




Di Tahun 1403 Utusan Tiongkok bernama Yin Cing bertemu dengan Raja Malaka bernama Pa-Li-Su-La. Hal ini sesuai dengan tulisan orang Portugis seperti Tome Pires (yang berada di Malaka pada Tahun 1512-1515), Barros dan putranya D'albuqerque yang menyatakan bahwa Raja Malaka yang pertama adalah Parameswara atau Permaisura.


Parameswara merupakan anak Raja PALEMBANG keturunan SYAILENDRA yang menikah dengan PUTRI MAJAPAHIT. Dalam perebutan kekuasaan di Majapahit di Tahun 1401, ia melarikan diri ke Singapura (Temasik) yang saat itu berada di bawah pemimpin bernama Temagi dan berhasil ditaklukkan oleh Siam.


Parameswara telah menaklukkan Singapura dari Temagi, namun di  Tahun 1402 ia diusir oleh Raja Pahang atau Raja Patani yang menjadi wakil Raja Siam. Setelah mundur dari Singapura ia berangkat ke Muar dan terakhir ke Melaka yang saat itu merupakan desa kecil.


Beliaulah yang mengembangkan kota Malaka dan beliau jugalah yang menganut agama Islam tahun 1414 ketika ia berumur 72 tahun (menurut catatan Portugis).


Orang Cina mencatat bahwa di Tahun 1414 Raja Malaka bernama Mukansautirsha berkunjung ke Tiongkok. Nama dalam bahasa Melayu ini sebenarnya adalah Megat Iskandar Syah.


Dengan membandingkan catatan Portugis dan Cina ini, R.O. Winstedt menyimpulkan bahwa Raja pertama Melaka bernama Permaisura sebelum masuk Islam, dan Megat Iskandar Syah setelah masuk Islam.


Kesimpulan Winstedt telah diterima oleh banyak sejarawan. Parameswara meninggal tahun 1424 setelahnya.


Memerintah selama 20 tahun. Beliau  menganggap Malaka sebagai sebuah desa dan meninggalkannya sebagai kota dan pusat bisnis terpenting di Selat Malaka sehingga orang Arab menyebutnya MALAKAT (tempat berkumpulnya seluruh saudagar).