Wednesday, January 7, 2026

BATHORO KATONG PONOROGO

 BATHORO KATONG PONOROGO 


BATHORO KATONG WAROK PONOROGO MURID SUNAN KALIJAGA


Bathara Katong (baca: Batoro Katong) adalah pendiri Kabupaten Ponorogo dan juga merupakan Adipati pertama Ponorogo. Bathara Katong merupakan utusan Kerajaan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo.



Asal usul Bathara Katong 

Bathara Katong, memiliki nama Asli Lembu Kanigoro, adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi dari selirnya yaitu Putri Campa yang beragama Islam. Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 ia yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Bathara Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Ia adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya).

Mulai redupnya kekuasaan Majapahit dan saat kakak tertuanya "Lembu Kenongo" yang berganti nama menjadi Raden Patah mendirikan kesultanan Demak Bintoro, Lembu Kanigoro mengikut jejak kakaknya untuk berguru di bawah bimbingan #Sunan_kalijaga di Demak.



Pertarungan dengan Ki Ageng Kutu Sunting

Prabu Brawijaya pada masa hidupnya berusaha diislamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya. Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk diislamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya memunculkan reaksi protes dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Kutu, Ki Ageng Kutu kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reog. Dan Reog tidak lain merupakan simbol kritik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak).



Upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat Basis di Ponorogo (Wengker) dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit dan kasultanan Demak. 

#Sunan_Kalijaga, bersama muridnya #Kiai_Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu. Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya yakni yang kemudian dikenal luas dengan Bathara Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.

Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Bathara Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Hindu, Budha, animisme dan dinamisme. Setelah Bathara Katong memasuki Ponorogo terjadilah pertarungan antara Bathara Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama sama kuat, Bathara Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan akal cerdasnya Bathara Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di iming-imingi akan dijadikan istri. Niken Gandini dimanfaatkan Bathara Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringinanom Sambit Ponorogo. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu disebut dengan Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Bathara Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini mungkin dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

Setelah Ki Ageng Kutu menghilang, Bathara Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara.



Pendirian Ponorogo 

Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Bathara Katong. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena Bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.

Setelah hutan selesai dibabat, bangunan-bangunan didirikan sehingga penduduk pun berdatangan. Setelah istana kadipaten didirikan, Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, Niken Sulastri ke istana kadipaten, sedang adiknya, Suromenggolo tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah Babad legenda "Pramana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo.

Bathara Katong kemudian menjadi Adipati di Ponorogo. Menurut Handbook of Oriental History hari wisuda Bathara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar tahun 1418 Saka, bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 atau 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai dihilangkan dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Para punggawa dan anak cucu Bathara Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam. Adapun turunan ke 7 bathara katong yang masih ada sampai sekarang yaitu di Pacitan, tepatnya di Tulakan.



Nama Bathara Katong diabadikan sebagai nama stadion dan sebuah jalan utama Ponorogo.

Warok yang berasal dari kata wewarah, yang berarti wong kang sugih wewarah. Atau seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik dan memiliki kesaktian spiritual.

Dalam pementasan kesenian reyog Ponorogo, selalu dijumpai sosok seorang warok dengan cirri-ciri baju dan celana besar warna hitam, sabuk kulit hitam dan besar, kolor tali warna putih terbalut rapi, udeng hitam di kepala dan postur tubuh yang kekar. Diselipi muka garang, kumis yang lebat dengan gagahnya.

Karena dipercaya memiliki kemampuan lebih (sakti), hingga saat ini warga Ponorogo menganggap keberadaan warok sebagai sesepuh di masyarakat. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasihat atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketenteraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati atau jalan kemanusiaan yang sejati.

Thursday, December 18, 2025

Kolonel Raden Ario Majang Koro adalah Komandan Barisan Madura yang terlibat Perang Aceh


Kolonel Raden Ario Majang Koro adalah Komandan Barisan Madura yang terlibat Perang Aceh




Majang Koro, Kacung Belanda Asal Madura Yang Memerangi Pejuang Aceh

Kolonel Raden Ario Majang Koro adalah Komandan Barisan Madura yang terlibat Perang Aceh. Dia memulai karirnya dari bawah dan hampir setengah abad mengabdi kepada Kerajaan Belanda.


Perwira Madura kelahiran 1832 ini awalnya tumbuh sebagai anak desa penggembala dan memulai karir militernya dari bawah.


Pada 15 Agustus 1848 ia datang ke Surabaya dan mendaftar sebagai sukarelawan dengan nama Kaboon. Ia pun jadi bagian dari batalyon infanteri Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) ke-13 di Surabaya.


Usianya baru sekitar 17 tahun ketika dikirim bertugas ke Bali dalam Ekspedisi Militer 1849 untuk menghadapi perlawanan rakyat Bali.  


KNIL memberangkatkan ekspedisi ke Bali pada 1846, 1848 dan 1849. Kaboon ikut ekspedisi yang ketiga. Setelah dikirim ke Bali dalam usia 18 tahun, dia meraih pangkat kopral pada 16 Januari 1850. Beberapa bulan kemudian, pada 25 Juni, pangkatnya naik jadi Sersan.


Dari Bali, Kaboon dikirim ke Palembang lalu Kalimantan Barat, masih dalam rangka operasi militer. Cukup lama Kaboon menyandang pangkat sersan.


Kaboon berada di Kalimantan Barat pada 1853 hingga 1854. Pada 1858, dia kembali dikirim ke Bali dalam rangka membereskan Pembekel Njoman Gempol yang memberontak.


Sejak 3 Juni 1859, Kaboon bergabung dengan Korps Barisan sebagai perwira dengan nama baru: Raden Majang Koro. Mendapat pengawasan dari KNIL, Korps Barisan adalah pasukan bantuan dari para penguasa Madura. Bangkalan adalah basis penting dari pasukan bantuan kolonial ini.


Sejak 6 Juli 1861 pangkat Raden Majang Koro naik menjadi Letnan Dua, di usia sekitar 29 tahun. Pada 20 Juli 1871, pangkatnya naik menjadi kapten dan persis setahun kemudian jadi mayor. 


Selama berpangkat mayor, nama lengkap Kaboon adalah Mayor Raden Demang Majang Koro.


Satu pasukan dari batalyon Barisan Madura, dengan dipimpin perwira berdarah Eropa, juga ikut ekspedisi pertama yang dipimpin Jenderal Mayor JHR Kohler.


Setelah Kohler terbunuh pada 14 April 1873 di depan Masjid Raya Aceh, ekspedisi militer ke Serambi Mekah pun kembali dilakukan. 


Sebagai mayor Korps Barisan, Majang Koro memimpin pasukan yang terdiri dari orang-orang Madura ke Aceh, pada 1873-1874.


Sepulangnya dari Aceh, Majang Koro dianugrahi bintang sebagai Ridders (ksatria) Militaire Willem Orde (MWO) kelas IV. Dua tahun berselang, tepatnya pada 25 Desember hingga 9 Maret 1876, ia dan Korps barisan kembali ke Aceh.


Pangkatnya naik lagi pada 1 April 1881 menjadi letnan kolonel dengan jabatan Komandan Korps Barisan Madura.


Madura saat itu terdiri dari empat kabupaten dengan empat penguasa. Tiap kabupaten biasanya menyumbang satu kompi.


Jadi, Korps Barisan hanya korps yang kecil. Jumlahnya sekitar satu batalyon. Jika lebih dari itu, Ario Majang Koro bisa jadi jenderal.


Selain Aceh, daerah konflik era kolonial yang pernah disambanginya dalam operasi militer adalah Lombok. Penugasan di Lombok pada 1894 itu membuat Kaboon kembali diganjar penghargaan.


Peserta ekspedisi Lombok biasanya dianugrahi Lombok Kruis. Kaboon sendiri ditasbihkan menjadi Ksatria Orde van Oranje Nassau.


Musuh-musuh pemerintah kolonial Hindia Belanda biasanya punya kualitas tempur dan senjata yang tidak lebih baik dari KNIL. 


Dalam mayoritas ekspedisi militer, KNIL hanya melawan orang-orang kampung yang tidak terlatih bertempur dan biasanya tidak punya banyak senjata api. 


Barisan Madura punya persenjataan yang sama dengan personel reguler KNIL.


Selain dianugerahi penghargaan dari Kerajaan Belanda karena melawan musuh-musuh penjajah, pada 1898 Majang Koro mendapat tambahan gelar Ario dari penguasa-penguasa di Madura.


Jadilah ia punya nama lengkap Raden Ario Majang Koro. Ia pun dipandang sebagai orang militer terhormat.


Di masa pensiunnya, ia mendapat uang bulanan dari kerajaan Belanda. Tunjangan sebesar 250 gulden ia dapat peroleh setelah sekitar setengah abad (1848 hingga 1890-an) mengabdi kepada kerajaan Belanda di Hindia Belanda.


Melibatkan orang Indonesia dalam meredam konflik dengan menjadikan mereka pasukan pemukul adalah hal biasa.


Keraton-keraton di Jawa Tengah pun punya legiun-legiun yang ikut mengalahkan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).


Legiun Mangkunegaran adalah yang paling terkenal. Tak hanya dari Jawa, ada orang-orang dari Ambon, Minahasa, dan daerah lainnya yang direkrut sebagai tentara. 


Bukan hanya tentara bayaran, tapi juga tentara profesional yang terima gaji bulanan.


Korps Barisan Madura tak bisa hidup di zaman pendudukan Jepang. Namun, pasukan bantuan sejenis Korps Barisan muncul lagi di masa revolusi.


NICA Belanda membentuk Tjakra dengan perwira yang di antaranya berasal dari KNIL. Ada pula seorang perwira menengah TNI berdarah indo yang pernah jadi letnan Tjakra Madura.


Raden Ario Majang Koro bisa digolongkan sebagai salah satu orang Madura pertama yang meraih pangkat kolonel karena masa dinasnya di militer, bukan karena statusnya sebagai bangsawan penguasa.


Ia seperti jelmaan legenda Kapitan Jonker yang memimpin pasukan Ambon pada zaman VOC. Dalam Perang Jawa, ada Pasukan Tulungan dari Minahasa yang terlibat dalam penangkapan Perang Diponegoro. Mayor Datulong dan Kapten Benjamin Thomas Sigar adalah pimpinannya.


Meski cuma dua baris, koran-koran di Hindia Belanda dan Negeri Belanda memberitakan kematian orang Madura ini. Walaupun telat dua minggu, setidaknya De Telegraaf (23/10/1906) melansir berita dari koran Java Bode:


"Di Bangkalan telah wafat Raden Majang Koro, pensiunan Kolonel dari Korps Barisan.


Lebih dari dua dekade setelah kematiannya, nama Majang Koro disebut lagi di koran Belanda. "Het Vaderland (22/03/1931) dan Nieuwe Tilburgsche Courant (05/05/1931) memuat riwayat hidup dan kejayaan Raden Majang Koro sebagai perwira dari pasukan bantuan bernama Korps Barisan Madura.



Thursday, November 20, 2025

KI AGENG GETAS PENDOWO

 KI AGENG GETAS PENDOWO




Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perjalanan berdirinya Dinasti Mataram Islam. 


Ki Getas Pendowo terlahir dengan nama  Raden Depok. 

Beliau adalah putra sulung  dari Raden Bondan Kejawan dengan Ibu Dewi Nawangsih (Putri Ki Ageng Tarub dengan Ibu Dewi Nawang Wulan). Jadi Ki Ageng Getas Pendowo adalah Cucu dari Raja Brawijaya V raja terakhir Kraton Majapahit. Dalam darahnya juga mengalir darah Raden Tumenggung Wilwatikta ayahanda Sunan Kalijaga, karena Ibu Ki Ageng Tarub II adalah putri dari Raden Tumenggung Wilwatikta. Begitu pula ayahanda Ki Ageng Tarub II adalah Syech Maulana Maghribi


Ketika kecil, beliau adalah sosok yang pendiam dan pemalu, ketika remaja beliau senang sekali menyendiri di hutan dan gunung. Raden Depok memperoleh pendidikan dasar dari ayahandanya, setelah remaja orang tuanya memasukkan Raden Depok ke pesantren Sunan Kalijaga yang masih terhitung sebagai Eyangnya. Ketika selesai belajar di pondok pesantren Sunan Kalijaga,  beliau memperdalam ilmu dan menjadi murid Sunan Mojogung di  Gunung Jati di Cirebon, Beliau diberi nama oleh Sunan Mojogung di Gunung Jati, Kyai Abdullah. 

disamping sebagai murid Sunan Mojogung Gunung Jati Beliau juga diambil sebagai menantu oleh Sunan Mojogung.

Setelah lama belajar dan tinggal di Pesantren Sunan Mojogung, Raden Depok /  Kyai Abdullah pulang ke Tarub dan tinggal di Getas Pendowo menjadi pemimpin dukuh juga menyebarkan agama Islam hingga kemudian beliau dijuluki dengan nama Ki Ageng Getas Pendowo.

Beliau adalah Priyayi yang sangat hebat,  berwibawa kharismatik. Beliau adalah sosok pemimpin yang tegas dan berwibawa, juga sederhana.Selama hidupnya Ki Ageng Pendowo adalah seorang yang tekun dalam beribadah dan menyiarkan agama Islam. Disamping itu Beliau suka bertapa meditasi dan laku prihatin disela sela kegiatan Beliau dalam bertani. 

Beliau dalam keseharian adalah seorang yang sederhana dan suka bersedekah. Hasil panen yang diperoleh tidak dinikmati sendiri tetapi dibagi bagikan kepada yang membutuhkan supaya mereka juga bisa merasakan hidup layak. 

 

Putra Putri Ki Ageng Getas Pendowo :

1. Ki Ageng Selo ( dari Putri Sunan Mojogung Gunung Jati ). Ki Ageng Selo menurunkan Ki Ageng Henis, Ki Ageng Henis menurunkan Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Pemanahan menurunkan Panembahan Senopati (Raja Mataram I)


2. Nyai Ageng Pakis

3. Nyai Ageng Purno

4. Nyai Ageng Kare

5. Nyai Ageng Walen

6. Nyai Ageng Bokong

7. Nyai Ageng Adibaya


Makam Ki Ageng Getas Pendowo :

Ki Ageng Getas Pendowo dimakamkan daerah Kelurahan Kuripan Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Letaknya di sebelah utara Kelurahan Kuripan Kecamatan Purwodadi (Jln. A. yani Purwodadi lebih kurang 1 Km)



Sumber Referensi :

- Ditulis oleh K.R.T Koesrahadi S Jayaningrat, Repost postingan JSM tahun 2018, 2022, 2023, Jejak sejarah Mataram













Ki Ageng Suryomentaram

Ki Ageng Suryomentaram





Kisah Ki Ageng Suryomentaram yaitu Sang Pangeran yang Menanggalkan Tahta Demi Menjadi Manusia Seutuhnya.


Bayangkan seorang pangeran dari jantung Kesultanan Yogyakarta, cucu seorang patih besar, dan putra dari Sultan Hamengkubuwono VII yang justru memilih meninggalkan kemewahan istana demi memahami makna sejati kehidupan.

Itulah Ki Ageng Suryomentaram, seorang filsuf Jawa yang tak hanya berpikir, tapi mengalami langsung hidup sebagai rakyat jelata. Dari kegelisahan batin hingga pencarian makna, perjalanan hidupnya menjadi legenda tentang kejujuran rasa dan kesederhanaan jiwa.


Dari Pangeran Menjadi Ki Ageng

Sebelum dikenal sebagai Ki Ageng Suryomentaram, ia bergelar Pangeran Surya Mataram. Namun, suatu hari ia melihat kenyataan hidup petani yang bekerja keras di bawah terik matahari dan hatinya terguncang.

Ia lalu memutuskan meninggalkan gelar kepangeranan, turun dari singgasana, dan memilih menjadi “orang biasa.”

Ia berkelana ke berbagai tempat yaitu Kroya, Purworejo, Parangtritis, Gua Langse, hingga Gua Semin. Di perjalanan itu, ia bekerja sebagai pedagang batik, petani, bahkan kuli penggali sumur.


Ketika utusan kraton menemukannya, ia tengah menggali sumur di Kroya. Mereka memintanya pulang ke istana. Ia menurut, tapi hatinya tetap gelisah.

Apalagi ketika kakeknya, Patih Danurejo VI, dicopot dari jabatan dan ibunya dipulangkan. Tak lama kemudian, istrinya meninggal dunia.

Sejak saat itu, ia benar-benar memilih meninggalkan istana kali ini untuk selamanya.


Menjadi Petani, Menjadi Guru Jiwa

Di daerah Bringin, Salatiga, ia hidup sederhana sebagai petani. Tapi dari sanalah lahir ajaran kebatinan yang kelak dikenal sebagai “Kawruh Begja” yaitu ilmu kebahagiaan sejati.

Ki Ageng Suryomentaram tidak mencari kebenaran dari kitab atau guru, melainkan dari dirinya sendiri. Ia menjadikan rasa sebagai laboratorium, dan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan.

Hasil renungannya ia tuangkan dalam tulisan, ceramah, dan dialog, sering kali hanya di hadapan orang-orang yang datang mencarinya.

Ia tampil apa adanya, bercelana pendek, bersarung, berkaos lusuh. Tapi dari kesederhanaan itu, keluar kebijaksanaan yang dalam.


Filsafat Rasa: Manusia dan Keinginan

Menurutnya, manusia hanya bisa memahami orang lain jika terlebih dahulu memahami dirinya sendiri. Dari pengamatannya, ia menemukan bahwa rasa setiap manusia sejatinya sama, semua ingin hidup dan lestari.

Namun yang membuat manusia menderita adalah keinginan. Ia membaginya menjadi tiga wujud:

1. Semat — harta, kecantikan, kesenangan, kemewahan.

2. Drajat — kemuliaan, kehormatan, status sosial.

3. Kramat — kekuasaan, pangkat, dan jabatan.


Ketiganya adalah jebakan yang membuat manusia lupa pada hakekat dirinya.


Sebagai gantinya, ia menawarkan falsafah hidup yang terkenal hingga kini: NEMSA (6-SA), yakni:


Sakepenake (senyaman-nyamannya),

Sabutuhe (secukupnya),

Sacukupe (seperlunya),

Samesthine (sewajarnya),

Sabenere (sebenarnya).



Ajaran “Aja Dumeh”

Dari segala kebijaksanaannya, satu ajaran paling abadi ialah “Aja Dumeh” yaitu jangan sombong, jangan merendahkan orang lain karena jabatan atau kekuasaan.

Bagi Ki Ageng, semua manusia setara di hadapan kehidupan. Tidak ada raja, tidak ada rakyat, yang ada hanyalah manusia dengan rasa yang sama.



Sang Raja Tanpa Tahta

Ki Ageng Suryomentaram mungkin menanggalkan gelar pangeran, tapi justru di situlah ia menjadi “raja yang sesungguhnya.”

Raja yang memerintah bukan dengan kuasa, melainkan dengan kebijaksanaan rasa.

Sang Real Raja Jawa yang menemukan kemuliaan bukan di istana, tapi di ladang, di peluh, dan di hati manusia.



Kisah Kadilangu dan Sadyakala ning Majapahit (Bhre Lasem)

 Kisah Kadilangu dan Sadyakala ning Majapahit (Bhre Lasem)






Lasem mempunyai dua pelabuhan, regol di timur dan kairingan di barat. Penguasa (Bhre) Lasem adalah adik Hayam Wuruk yaitu Rajasa Duhita Indudewi bersuamikan Bhre Metahun Pangeran Sumana yang bergelar Rajasawardhana. Babad Lasem menyebut keduanya berputra Pangeran Badrawardhana berputra Pangeran Wijayabadra berputra Pangeran Badranala berputra Wirabaja dan Santi Badra. Santi Badra berputra Santi Kusuma atau Pangeran Sahid. Nama terakhir yang dikenal dengan sebutan Panembahan Kadilangu atau Sunan Kalijaga ini adalah keturunan langsung dari Bhre Lasem. 


Kenapa Sunan Kalijaga sering dipahami berasal dari Tuban? Masalah berpangkal dari ayah Sunan Kalijaga, Santi Badra yang dikenal dengan sebutan Tumenggung Wilwatikta menikah dengan Putri Sukati, anak perempuan Arya Adikara dari Tuban yang tidak lain adalah Syekh Bejagung asal Champa. Adik putri Sukati yaitu Raden Ayu Teja yang menikah dengan Syekh Abdurahman atau Arya Teja kemungkinan menguasai pelabuhan Lasem timur yaitu pelabuhan regol yang otomatis dipegang pihak Tuban. Adapun Adipati Lasem dipegang oleh kakak dari ayah Sunan Kalijaga yaitu Pangeran Wirabraja sedangkan Santi Badra menjadi Syahbandar atau Dhang Puhawang pelabuhan Lasem barat di Kairingan. 


Adipati Lasem Pangeran Wirabraja menikah dengan Nyai Maloka putri Sunan Ampel menurunkan Pangeran Wiranegara yang menggantikannya sebagai Adipati Lasem. Nyai Solikhah putri Pangeran Wiranegara dijodohkan dengan Jin Bun yang dikenal sebagai bajak laut dari Teluk Menco yang banyak ditumbuhi tanaman glagah yang berbau langu. Santi Kusuma berhasil menaklukan sang bajak laut Jin Bun dan menjadikanya seorang bintara. Santi Kusuma selanjutnya dikenal dengan sebutan Panembahan Glagah Langu. Kelak Glagah Langu mengalami penghalusan kata menjadi Glagah Wangi sedangkan Panembahan Glagah Langu menjadi Kadilangu (Apakah terkait dg jabatannya sebagai Kadi atau penghulu masjid Demak?) 


Ketika Pangeran Wiranagara (ayah mertua Jin Bun) wafat jabatan Adipati Lasem digantikan oleh istrinya, Nyai Malokah yang mengangkat adiknya, Raden Makdum Ibrahim untuk membantu memimpin Lasem sambil menyebarkan islam di Bonang Binangun yang kelak dikenal dengan Sunan Bonang yang terhitung sebagai paman dari Jin Bun. 


Ketika Pangeran Santibadra dipanggil ke Keraton Majapahit untuk menjalankan tugas negara selama 10 tahun lamanya, jabatan Dhang Puhawang di Lasem diserahkan kepada putra sulungnya, yaitu Pangeran Santi Puspa, kakak dari Santi Kusuma (Sunan Kalijaga). Walaupun jabatan Adipati Lasem dipegang oleh Nyai Malokah, namun dalam praktiknya Pangeran Santi Puspa yang memiliki pengaruh kuat dalam menjalankan roda pemerintahan di Lasem. 


Ketika Nyai Malokah wafat, maka jabatan Adipati Lasem secara otomatis diambil alih oleh kakak Kalihaga yaitu Pangeran Santi Puspa. Setelah Pangeran Santi Puspa menjabat sebagai Adipati Lasem, Sunan Bonang kembali ke Tuban. Sementara Santi Kusuma belajar agama islam kepada kakek dari ibu di Tuban yaitu Sunan Bejagung yang memberinya nama islam Pangeran Sahid. 


Sepertinya Demak membangun kekerabatan dengan keluarga Lasem (Pangeran Wiranegara) dan Tuban (Arya Adikara) selain tentunya dengan Tidunan (Pate Orub) dan Jepara (Pate Onus) serta berbagi kekuasaan bersama dengan tetap membangun relasi positif dengan Gresik (Sunan Giri) dan Ampel (Sunan Ampel) di Surabaya. Sedikit demi sedikit kelompok muslim ini melakukan penetrasi budaya pesisir-egaliter ke pedalaman yang mengalami involusi dan pembusukan budaya dari dalam. 



Babad Lasem menceritakan keadaan Majapahit sebelum kehancurannya : 


"Pelangi Majapahit berubah suram, keterkenalan, kharisma para pejabat dan wibawa raja berangsung berkurang, pemerintahan semrawut ruwet, gonjang-ganjing, pejabat pemerintahan tidak ada yang hatinya tentram, saling memfitnah. Rakyat kecil semua prihatin, mengalami kekurangan pangan, kesusahan karena maling, begal, pembunuhan merajalela pada malam hari, sangat menghawatirkan. Banyak pejabat yang tidak mau memikirkan penderitaa rakyat, yang ada hanyalah mengumbarkan kemurkaan, kesenangan, main, madat, main perempuan, makan enak sambil bebas membangun rumah megah sehingga menebang pohon-pohon besar yang berakibat pada banjir besar dan bobolnya tanggul sungai berantas yang memenuhi tegalan, sawah dan tanah pedesaan dengan air bah yang tidak mudah dipulihkan" 


Labad Lasem menceritakan secara detail serangan Girindrawardhana yang menganut ajaran Hindu Trantayana ke Majapahit. Patih Kertadinaya yang menganut agama Rasul dan Tumenggung Warak Jabon yang menganut Tatrayana tidak sanggup menahan serbuan Girindrawardhana. Bhre Kertabumi meloloskan diri dengan menyamar sebagai sramana budha, berkepala gundul, mengenakan jubah  kuning meninggalkan Majapahit diam-diam tetapi tidak disebutkan kemana arah tujuan kepergiannya. Adapun Santi Badra pulang kembali ke Lasem dengan menyamar sebagai santri islam. Dari uraian ini diketahui bahwa para tokoh agama Majapahit dilindungi dari hukum perang sehingga bebas meninggalkan medan laga yang merupakan wilayah para ksatria. 


Babad Lasem menyebutkan dua tokoh pembesar agama Budha yaitu Dang Hyang Asthapaka yang berasal dari Champa dan tinggal di Taman Banjar Mlathi Lasem yang telah meramalkan akan kejatuhan Majapahit akibat merosotnya moral pejabat Majapahit. Bersama koleganya Dang Hyang Nirartha kedua pendeta ini dikenal sebagai pembaharu moralitas masyarakat Majapahit, tetapi realitas kehidupan politik berjalan sebaliiknya. Babad Dalem mengisahkan pasca prahara di Majapahit Dang Hyang Nirartha berlayar ke Bali mendarat di desa Kapurancak pada 1489 di era pemerintahan Dyah Ranawijaya. 


Babad Lasem mengsahkan serangan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang menyebabkan banyak penduduk yang disiksa dan dibunuh, mereka mencari persembunyian dan perlindungan di pusat-pusat pendidikan islam. Serangan ke Mahapahit ini titi balik sejarah perkembangan pondok-pondok pesantren yang tumbuh pesat menggantikan wanasrama-mandala, kedewaguruan dan keresiyan yang telah eksis sebelumnya. 


Babad Lasem juga mengisahkan banyaknya penduduk Majapahit yang memeluk agama islam secara sukareka karena agama "pesisir" ini dianggap lebih simpel dan tidak memberatkan pelakunya. 


"Sebab pranatan lan sipate agama anyar sing lagi sumebar kuwi: "ora kakehan ragad, ora kakegan sajen, ora kakegan puja mantra sing nglantur dawa, ora kakehan leladi bekti marang dewa-dewa, ora ana  tata cara sing ngrekasakake raga, mbrasta kasta lan nyuwak panglengkara, sayuk rukun nglungguhi tata krama." 


Dikisahkan sesampainya di Lasem, Santi Badra menjadi Brahmana sampai akhir hidupnya mengajarkan ilmu Indriya Pra Asta kepada para pendeta Kanung dengan menciptakan buku pegangan "Pustaka Sabda Badrasy" yang mengajarkan kedamaian hidup. Beliau menghabiskan sisa usianya dengan bertapa di gunung Argopura sampai wafatnya pada 1449 Saka atau 1527 M. Dan Sunan Kalijaga menjadi saksi peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak dengan menjaga keselarasan ajaran lama dan ajaran baru, sesuai namanya yang menjaga dua arus sungai.






‎SILSILAH SUNAN PAKUBUWANA II ‎(Dari Trah Sunan Kudus)

 ‎SILSILAH SUNAN PAKUBUWANA II

‎(Dari Trah Sunan Kudus)




‎A. Sèh Jumadil Kubra

‎Syech Jumadil Qubra menikah dengan :

‎I. Nama Siti Patimah Kamarumi, putri  Sultan Ngabdul Hamid  ing nagara Ngêrum, menurunkan :

‎1. Maulana Sultan Tajudin Ahmadil Kubra Kalifatul Nurul Mulki, ing nagara Mêkah.

‎2. Maulana Sultan Mukyadin Mukhamadil Kubra Kalifatul Mulki iya ing nagara Mêkah.

‎3. Siti Rakimah, krama olèh Sultan Mahmud, ing nagara Ngêrum.

‎4. Maulana Abu Amat Iskak Imamul Pasi, dadi imam pase ana tanah Malaka.

‎5. Maulana Abu Ngali Ibrahim, (Maulana Ibrahim Asmara)

‎6. Siti Thobiroh

‎II. Nama Siti Patimah Makhawi, putri Sèh Jakpar Sadik, ing nagara Mêkah, menurunkan:

‎1. Sèh Samsudin.

‎2. Sèh Samsuta Baris.

‎3. Sèh Ngarif, krama olèh Siti Murtasiyah.

‎4. Sèh Rasid.

‎5. Sèh Kasan Ngali.

‎6. Sèh Kasan Bêsari.

‎7. Sèh Ibrahim Astari.

‎8. Sèh Ngabdulah Ansari.

‎9. Siti Jenab, krama olèh Sèh Iskak Ibnu Junèt.

‎10. Sèh Ngabdulah Asngari.

‎11. Sèh Mustah

‎12. Sèh Kaltum.

‎13. Sèh Subli.

‎14. Sèh Ngulwi.

‎15. Sèh Katim.

‎16. Siti Katimah.

‎B. Maulana Ibrahim Asmara

‎Maulana Ngabdul Ngali Ibrahim awalnya bertempat tinggal di Jeddah kemudian pindah ke Campa, dan menjadi Iman di daerah Asmara hingga dikenal dengan nama Maulana Ibrahim asmara.

‎Beliau memiliki dua istri :

‎I. Garwa sêpuh , Siti Sarifah menikah ketika di Jeddah menurunkan :

‎1. Sayid Ngaliyil Gebar.

‎2. Sayid Khasan Asngadi.

‎3. Sayid Samadingari.

‎4. Sayid Ngalinakit,

‎II. Garwa kedua, Dewi Sasanawati, Putri Raja Kiyan dari nagari Campa.

‎Dewi Sasanawati memiliki kakak yang dinikahi oleh Prabu Brawijaya V dari Negeri Majapahit yang bernama Dewi Andharawati

‎Ketika Raja Kiyan wafat, Maulana Ibrahim Asmara diangkat menjadi Raja dinegeri Campa dengan gelar Sultan Sirajjudin.

‎Menurunkan :

‎1. Sayid Ngali Murtala , tinggal di Tanah Jawa ing Garêsik, bergelar Raja Pandhita Ngali Murtala, menikah dengan putri Arya Baribin, ing Madura, menikah lagi dengan putri Arya Teja ing Tuban.

‎2. Sayid Ngali Rahmat, dadi wali ajêjuluk Sunan Katib, adêdalêm ana ing Ngampèldênta, tanah Surabaya kemudia dikenal dengan nama Sunan Ngampèldênta.

‎C. Sunan Katib, ing Ngampèldênta

‎Sunan Ngampeldenta memiliki dua istri dan satu garwa selir:

‎I. Nyai Agêng Bela, putri Arya Danu, ing nagara Majapait, keponakan  Arya Teja ing Tuban. Menurunkan :

‎1. Ratu Fatimah, menikah dengan Pangeran Ibrahim, ing Karang kemuning tanah Japara, setelah suaminya wafat Ratu Fatimah bertapa di Gunung Manyura, kemudian dinikah  olèh Kalifah Kusèn, putran Sèh Wadi ing Jeddah, Nyai Agêng Manyura kemudian tinggal di  Ngampèldênta

‎2. Nyai Agêng Ratu, menikah dengan Pangeran Kalipah, kang jumênêng Sunan Ratu, adêdalêm ing Girigajah kadhaton, Sunan Ratu adalah putra Sèh Iskak atau Sèh Walilanang, Sèh Walilanang putra Maolana Abu Amat Iskak , Maulana Abu Amat Iskak  putra  Sèh Jumadil Kubra.

‎II. Nyai Ageng Manila, putri Arya Teja ing Tuban, menurunkan:

‎1. Ratu Jumantên, menikah dengan Sultan ing nagara Dêmak Bintoro . Ratu Jumantên  bergelar  Ratu Panggung.

‎2. Ratu Jumêrut, menikah dengan Kyai Ageng bata putra  Arya Pamot ing Tuban, Ratu Jumêrut kemudian bernama Nyai Agêng Tuban.

‎3. Ratu Wêrdi,  bergelar Ratu Mas Taluki, krama olèh Pangeran Kalipah Kaji Ngusman, putra  Raja Pandhita Ngali Murtala ing Garêsik, Pangeran Kalipah Kaji Ngusman,kemudian  bertempat tinggal ing Pulau Moloko, Ratu Mas Taluki berganti gelar nama Nyai Agêng Moloko, kemudian pindah bertempat tinggal ing Tuban, bertapa di Gunung Danaraja.

‎4. Ratu Wilis, bergelar Ratu Mas Saruni, krama olèh Pangeran Kalipah Nuraga, adik Pangeran Kalipah Kaji Ngusman, ketika Pangeran Kalipah Nuraga tinggal di Tandhês, Ratu Mas Saruni kasêbut nama Nyai Agêng Tandhês.

‎5. Pangeran Makdum Ibrahim, nama Sunan Wadat Anyakrakusuma, bertempat tinggal  ing Bonang, bergelar Sunan Bonang.

‎6. Pangeran Musakèh Mukhamad, nama Sunan Mufti, bertempat tinggal di Darajat, bergelar  nama Sunan Derajat , bertempat tinggal di Cirebon hingga wafatnya.

‎III Garwa selir

‎Dari Garwa Selir menurunkan:

‎1. Sèh Sahmut, nama Pangeran Tumras, adêdalêm ing Sapanjang, kasêbut nama Pangeran Sapanjang.

‎2. Sèh Kanjah, nama Pangeran Tumampêl, adêdalêm ing Lamongan, kasêbut nama Pangeran Lamongan.

‎3. Sèh Randhêh, nama Pangeran Orang Ayu, adêdalêm ana ing Wanakrama, kasêbut nama Pangeran Wanakrama.

‎4. Nyai Agêng Mandara.

‎5. Nyai Agêng Amadarum.

‎6. Nyai Agêng Suwiyah.

‎D. Nyai Agêng Manyura

‎Menurunkan:

‎1. Nyai Agêng Sampang, menikah dengan Kyai Agêng Sampang, putra  Lêmbupêtêng ing Madura.

‎2. Nyai Agêng Manyuran, krama olèh Sunan Ngudung, putra Kalifah Kusèn dari putrinya Arya Baribin, ing Madura, 

‎3. Pangeran Manyura.

‎E. Nyai Agêng Manyuran

‎Menurunkan : 

‎1. Sunan Kudus.

‎F. Sunan Kudus

‎Sunan Kudus menikah tiga kali :

‎I. Putrane Kyai Agêng Kalipodhang,

‎II. Putrane Adipati Têrung,

‎III. Putrane Adipati Kêndhuruan, pêputra wolu:

‎I. Menikah dengan putri Kyai Kalipodhang:

‎Menurunkan:

‎1. Nyai Agêng Pambayun.

‎2. Panêmbahan Kali, bertempat tinggal ing Păncawati, Dêmak, bergelar Panêmbahan Păncawati, setelah Sunan kudus beliau menggantikan kedudukannya bergelar Panêmbahan Kudus.

‎3. Pangeran Pakaos

‎4. Pangeran Gêgênêng,

‎II. Menikah dengan putri Adipati Têrung:

‎Menurunkan:

‎1. Pangeran Palembang.

‎III. Menikah dengan putri Adipati Kêndhuruan

‎Menurunkan:

‎1. Ratu Makoja, nama Ratu Sakosar, menikah dengan Pangeran Silarong.

‎2. Adipati Sujaka.

‎3. Pangeran Prada Binabar.

‎G. Panêmbahan Kudus

‎Menikah dengan trah Giri menurunkan:

‎1. Pangeran Kudus.

‎2. Pangeran Dêmang, sumare ing Kadhiri.

‎3. Radèn Ayu Panêmbahan, menikah dengan Panêmbahan Madura, putraJaran Panolih ing Madura.

‎4. Radèn Urawan, Panêmbahan Urawan, putra Panêmbahan Madiun.

‎H. Pangeran Dêmang

‎Pangeran Demang putri  Panêmbahan Wilasmara ing Kadhiri, berputra tiga orang:

‎1. Pangeran Mêmênang.

‎2. Pangeran Rajungan

‎3. Pangeran Kandhuruan.

‎I. Pangeran Rajungan

‎Pangeran Rajungan menikah dengan Kyai MajaAgung III pêputra:

‎1. Pangeran Sarêngat

‎ Oleh Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Mangkurat, marang ing Kartasura, nalika ana kraman Trunajaya, Pangeran Sarêngat banjur ditandur dadi pangeran ana ing Kudus, banjur kasêbut nama Pangeran Kudus.

‎J. Pangeran Kudus

‎garwa dari trah Adipati Têrung, berputra:

‎1. Mas Jawa, setelah dewasa bernama Radèn Suradipura, kemudian menggantikan kedudukan ayahanda bergelar  Pangeran Kudus II

‎2. Mas Jawi, bergelar Radèn Adipati Sumadipura ing Pathi.

‎K. Radèn Adipati Sumadipura ing Pathi

‎pêputra lima:

‎1. Radèn Ayu Jayasêtika ing Kudus.

‎2. Radèn Bagus Yata, bergelar Radèn Adipati Tirtakusuma ing Kudus.

‎3. Radèn Bewak, banjur nama Radèn Martakusuma, menjadi Adipati ing Pathi, nama Radèn Adipati Mêgatsari, menurunkan  Ratu Kadipatèn Permaisuri Sunan Amangkurat IV

‎4. Radèn Ayu Cêndhana, menikah dengan Pangeran Cêndhana, putra Pangeran Natapraja ing Kadilangu.

‎5. Radèn Bagus Lêmbu, nama Radèn Martapura, ngalih nama Radèn Martakusuma, menurunkan Radèn Ayu Pandhansari, garwa Panêmbahan Purbaya, pêputra Kangjêng Ratu Mas, garwa dalêm Sunan Pakubuwana  II.

‎L. Radèn Adipati Tirtakusuma ing Kudus 

‎Menurunkan enam putra :

‎1. Kangjêng Ratu Kêncana, garwane Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Amangkurat, kasêbut nama Kangjêng Ratu Agêng.

‎2. Radèn Ayu Wirasari, menurunkan Radèn Wiratmêja, kang kaparingan nama Radèn Mêgatsari.

‎3. Radèn Martanăngga, Ayahanda Radèn Arya Hendranata.

‎Raden Arya Hendranata menikah dua kali :

‎3.1. GRAy Rambe putri Sunan Amangkurat IV dari Mas Ayu Rondonsari. Setelah bercerai dengan Raden Arya Hendranata menikah dengan Adipati Danureja I, Patih Kraton Yogyakarta

‎3.2. Kangjeng Ratu Maduretna putri Sunan Amangkurat IV dari Kangjeng Ratu Kencana

‎4. Radèn Martakusuma, Ayahanda Radèn Martapura: Paridan.

‎5. Radèn Ayu Ä‚nggakusuma, Ibunda Radèn Suwandi, Raden Suryanagara.

‎6. Radèn Wangsèngsari, Ibunda Radèn Wăngsakusuma ing Pathi

‎M. Kangjêng Ratu Kêncana, garwane Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Amangkurat IV

‎Setelah putranya naik tahta bergelar Kangjêng Ratu Agêng.

‎Menurunkan putra tiga :

‎1. Radèn Ayu Pambayun, seda timur.

‎2. Gusti Raden Mas Prabasuyasa setelah naik tahta bergelar Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Pakubuwana II.

‎3. Kangjêng Ratu Madurêtna.

‎N. Gusti Raden Mas Prabasuyasa setelah naik tahta bergelar Ingkang Sinuhun Pakubuwana Kangdjeng Susuhunan Pakubuwana II.





‎SUSUHUNAN PAKUBUWANA II

‎Beliau terlahir di Kraton Kartasura pada Selasa Pahing 23 Syawal 1634 atau tanggal 8 Desember 1711 dengan nama kecil Bendara Raden Mas Gusti Prabhu Suyasa. Beliau adalah putra dari Susuhunan Amangkurat IV dengan Garwa Permaisuri Kanjeng Ratu Kencana (putri dari Bupati Kudus, Raden Adipati Tirtokusumo)

‎Tanggal 10 Juni 1726 bertempat di Kraton Kartasura, RMG Prabasuyasa menikah dengan RAy Sukiya, putri dari paman beliau yaitu Gusti Panembahan Purbaya. Kelak RAy Sukiya diangkat sebagai permaisuri dan bergelar Kanjeng Ratu Mas 

‎Sepeninggal sang ayahanda yaitu Susuhunan Prabhu Amangkurat IV , BRMG Prabhu Suyasa atau BRMG Prabasuyasa yang saat itu berusia 15 tahun  dinobatkan sebagai Raja Kraton Kartasura pada hari Kamis Legi 16 Besar 1650 Jawa atau 15 Agustus 1726 M.

‎Pada masa pemerintahan Beliau Kraton Kartasura pernah mengalami berbagai pergolakan salah satunya " Geger Pecinan " yang mengakibatkan rusaknya Kraton dan hilangnya wahyu kedaton yang membuat Susuhunan Pakubuwana II memerintahkan untuk memindahkan pusat Kraton Kartasura, akhirnya terpilih Desa Sala sebagai pusat Kraton dan setelah Kraton berdiri dinamakan " Kraton Surakarta Hadiningrat "  Peristiwa pindahnya kraton dari Kartasura ke desa Sala pada hari Rabu Pahing 14 Sura 1670 Jawa atau 17 Pebruari 1745 M. 

‎Jadi Susuhunan Pakubuwana II adalah Raja Mataram Kartasura yang terakhir juga Pendiri Kraton Surakarta Hadiningrat. Sekaligus Cikal Bakal berdirinya Kota Surakarta.

‎Susuhunan Pakubuwana II wafat pada hari Minggu Kliwon 11 Sura 1675 Jawa atau 21 Desember 1749 dan dimakamkan di Astana Laweyan Surakarta karena situasi saat itu tidak memungkinkan beliau dimakamkan di Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta. Setelah situasi mulai tenang, pada masa pemerintahan Susuhunan PB III , jenasah Sunan PB II dipindahkan ke Astana Pajimatan Imogiri di area Kedaton Pakubuwanan.

‎Para putra putri Susuhunan Pakubuwana II :

‎1. GKR Timoer 

‎2. KRAy Sekar Kedaton

‎3. KGPH Prabu Anom Priyambada

‎4. GRAj Suwiyah

‎5. BRMG Suryadi kelak jadi Sunan PB III

‎6. GRAj Patimah

‎7. GRM Pinten

‎8. GRAY Puspokusumo

‎9. GRAj Senthi

‎10. GRM Goto 

‎11. GRM Budiman

‎12. GRAy Puspodiningrat

‎13. GRAy Kaliwungu

‎14. GRAy Sosrodiningrat

‎15. GRM Prenjak

‎16. GRAy Pringgodiningrat

‎17. GPH Puruboyo

‎18. GRM Supomo

‎19. GPH Balitar

‎20. GRM Samsir

‎21. GPH Danupoyo

‎22. GRM Kendhu

‎23. GRAy Djungut Manduraredja

‎(Oleh : KRT Sajid Jayaningrat)

‎Al Fatihah  kagem alusipun poro leluhur 

Tuesday, November 11, 2025

Kraton Surakarta Hadiningrat - Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat - Pura Mangkunegaran - Pura Pakualaman

Kraton Surakarta Hadiningrat 

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat 

Pura Mangkunegaran 

Pura Pakualaman






Ternyata gini jadinya 4 istana Trah Mataram disandingkan dalam 1 frame, dokumentasi.



1. Kraton Surakarta Hadiningrat


2. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat


3. Pura Mangkunegaran


4. Pura Pakualaman

Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan(1828–1891)

 Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan(1828–1891) 




Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan(1828–1891) adalah penguasa Partuanan Raya yang dijuluki Pemerintah Kolonial Belanda sebagai Napoleon der Bataks atau Napoleon-nya orang Batak, karena perlawanannya hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging. Barulah pada tahun 1901, sepuluh tahun setelah waf4tnya Tuan Rondahaim, Partuanan Raya takluk kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, Partuanan Raya dipimpin oleh putra Tuan Rondahaim yang bernama Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional Indonesia.


Friday, October 10, 2025

Kisah Rasulullah Titip Salam Kepada Kiai Khozin Buduran Sidoarjo Jawa Timur

 Kisah Rasulullah Titip Salam Kepada Kiai Khozin Buduran Sidoarjo Jawa Timur 





Salah seorang waliyullah yg terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah haji. Beberapa saat ketika beliau singgah di Madinah hendak berziarah kemakam Rosulullah di Ar-Roudhoh, beliau berjumpa dengan Nabi SAW. Ketika itu beliau terlihat mesra sekali bercengkrama dengan Nabi, hingga sebelum berpisah, Nabi mengatakan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan bahwasannya kalau Syaikhona kembali ketanah air supaya menyampaikan salamnya Nabi kepada Khozin dari Buduran-Sidoarjo.


Begitulah, selepas kapal yang ditumpangi Kyai Kholil sandar di pelabuhan Kota Surabaya ( sekarang Tanjung Perak), beliau tidak langsung menuju Bangkalan-Madura, akan tetapi langsung menuju Buduran-Sidoarjo mencari orang yang bernama Khozin sebagaimana yang disarankan Nabi SAW kepadanya. Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin.


Setiap jawaban yg beliau peroleh berfariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yg beliau bayangkan. Hingga suatu saat kemudian dipagi hari beliau bertemu dengan bapak tua berpakaian kaos oblong, dengan memakai sarung yang agak dicincingnya sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan (bilik-bilik bambu para santri), Kyai Kholil lalu menghampiri bapak tersebut yg tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh bapak tersebut, beliau bertanya;


” Pak, dimanakah rumah Khozin ?”


” Kalau nama Khozin, banyak disini “. Jawab orang tersebut.


” Tapi kalau Kyai hendak mencari Khozin yang dimaksud Rosulullah sewaktu sampean di Madinah, ya saya ini Khozin yang beliau maksud “. Lanjut bapak tersebut.


Syaikhona Kholil tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan bapak tersebut berulang kali.


Ya, itulah Kyai Khozin Khoiruddin pengasuh pondok Siwalan Panji Buduran sekaligus perintis tradisi khotaman Tafsir Jalalain, yg diera Kyai Ya’kub Hamdani terkenal sebagai pondoknya para wali. Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy’ari adalah alumni ponpes ini, dimana beliau sempat diambil menantu oleh Kyai Ya’qub dengan mempersunting puterinya yang bernama Khodijah, dari perkawinan beliau lahir seorang putra bernama Abdullah.


Tapi sayang keduanya (Nyai Khodijah dan Abdulloh putranya) wafat di Makkah pada tahun 1930, dipondok ini gothaan kyai Hasyim ketika masih nyantri sampai sekarang diabadikan, dan diantara alumni yg lain adalah seperti Mbah Hamid Abdullah Pasuruan, Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan ( konon menurut penuturan cucunya kepada saya, disuatu musim kemarau waktu itu banyak para petani yang kehausan karena sumur disawah maupun rumah kering kerontang, ditengah kehausan itu tiba-tiba mereka melihat Mbah Jaelani melayang-layang diudara sambil membawa timba-timba berisi air beserta pikulannya), ada juga wali kendil (kakak beradik yang meninggal ketika masih menjadi santri.


Si adik ahli mutholaah kitab sedangkan si kakak ahli tirakat, hingga pada suatu hari kakaknya marah melihat adiknya menanak nasi karena tidak menghormati kakaknya yg sedang berpuasa. Ditendangnya kendil buat menanak nasi itu hingga pecah berantakan. Melihat itu si adik diam sambil mengambil serpihan-serpihan kendil yang pecah berantakan itu ditempelkannya lagi potongan serpihan itu dengan ludahnya hingga kembali utuh seperti sedia kala. Hingga ketika keduanya meninggal, makam adiknya tidak mau berjejer berdampingan dengan kakaknya, setiap hari makam adiknya bergeser maju bahkan konon sampai menembus pagar batas makam, dan pada akhirnya oleh Kyai Ya’kub makam santrinya itu diperingatkan agar cukup sampai disitu saja. Hingga sampai sekarang makam keduanya yang awalnya berjejer sudah tidak lagi seperti pertama kali dimakamkan, makam adiknya lebih maju kedepan melewati batas nisan kakaknya ), dan Kyai Kholil Bangkalan sendiri termasuk alumni Siwalan Panji.


Pondok Siwalan Panji ini berdiri sekitar tahun 1787 oleh Kyai Hamdani. Menurut Gus Rokhim (alm) pemangku pondok Khamdaniyah yang juga generasi ke tujuh dari Mbah Khamdani, ketika tanah siwalanpanji masih berupa tanah rawa, Mbah Hamdani meminta kepada Allah agar tanah rawah ini diangkat kepermukaan untuk dijadikan sebagai kawasan syiar Islam waktu itu.


“Ketika itu Mbah Hamdani meminta pertolongan kepada Allah, tidak berselang lama, tanah yang sebelumnya rawa, tiba² terangkat dan menjadi daratan,”. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba² pecah dan terserak dan berpencar. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai menuju sungai di seberang kawasan pondok.


“Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji,” cerita Gus Rokhim.


Dijuluki pondoknya para wali karena setiap tahun alumni yang keluar bbeberapa diantaranya sudah mempunyai karomah-karomah luar biasa ketika masih menjadi santri.


Konon dari beberapa riwayat yang saya kumpulkan, di pondok Panji atau Siwalan Panji inilah kitab Tafsir Jalalain pertama kalinya dibaca secara klasikal pada tahun 1789 M. Sistem penddikin ala madrosah Diniyyah juga sudah ada pada waktu itu, hanya saja formatnya tidak seperti sekarang yang tersusun sistematis dan terencana.


Semenjak itu Syaikhona Kholil selalu mewanti wanti agar santri beliau yang boyong agar tabarrukan dulu di pondok Panji yang diasuh Kyai Khozin ketika itu, sebagai bentuk ketakdzhiman Syaikhona Kholil kepada Kyai Khozin.


Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sampai sekarang pondok Panji, terutama pondok Al Khozini banyak dipenuhi santri dari Madura, sebagai bentuk ketakdzhiman mereka pada dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan.




Demikian Kisah Rasulullah Titip Salam Kepada Kiai Khozin Buduran Sidoarjo, semoga manfaat.


Wallohu a’lamu bis showab.






Sejarah Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo Jawa Timur 


Kompleks Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. 


Pondok Pesantren Al Khoziny yang terletak di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo ini, menjadi salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Pasalnya, nama Pesantren yang diambil dari nama pendirinya yaitu KH Raden Khozin Khoiruddin ini, lebih dikenal sebagai Pesantren Buduran karena terletak di Desa Buduran.


Kiai Khozin sepuh demikian masyarakat menyebutnya merupakan menantu KH Ya’qub dan pengasuh Pesantren Silawanpanji di periode ketiga (dikutip dalam jurnal, Peranan KH Abdul Mujib Abbas dalam Mengembangkan Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo 1964-2010, hal. 45)


Tercatat, sejumlah ulama besar pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Siwalanpanji ini, seperti KH M Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), KH Nasir (Bangkalan), KH Abd Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH Umar (Jember), KH Nawawi (Pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung Kediri), KH Usman Al Ishaqi (Alfitrah Kedinding, Surabaya), KH Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH Dimyati (Banten), KH Ali Mas’ud (Sidoarjo), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), dan masih banyak yang lainnya.


Menurut beberapa data yang ditemukan penulis di beberapa artikel atau jurnal penelitian yang menyebutkan bahwa Pesantren Al Khoziny berdiri di antara tahun 1926 atau 1927 belum bisa dibenarkan. Hal itu disampaikan KHR Abdus Salam Mujib, Pengasuh Pesantren Al Khoziny pada saat Haul Masyayikh dan Haflah Rajabiyah ke-80 Pesantren Al Khoziny 2024. Kiai Salam Mujib mengatakan bahwa pesantren ini ada sekitar tahun 1920.


Data itu baru diketahui setelah Kiai Salam Mujib menerima rombongan satu bus dari Yogyakarta beberapa tahun lalu. Menurut cerita tutur yang disampaikan Kiai Salam Mujib, ketua rombongan sowan ke Pesantren Buduran Sidoarjo ini untuk ngalab berkah, sebab orang tuanya santri pertama KHR Moh Abbas bin KHR Khozin Khoiruddin di Pesantren Buduran.


Ketua rombongan yang berusia sekitar 70-an ini, menceritakan bahwa orang tuanya nyantri terakhir di Pesantren Buduran, selepas nyantri di beberapa pesantren di Pulau Jawa. Di antaranya pesantren Buntet dan beberapa pesantren di Jawa Tengah.


Menurut Kiai Salam Mujib, orang tua dari ketua rombongan ini nyantri di Buduran sekitar lima tahun pada tahun 1920, yang waktu itu pesantren ini diasuh oleh Kiai Abbas Buduran. Namun, Kiai Salam Mujib menyayangkan peristiwa itu tidak didokumentasikan dengan baik.


Meski begitu, Kiai Salam Mujib yang juga Rais PCNU Sidoarjo ini, berkeyakinan bahwa Pesantren Buduran ini ada sebelum 1920. Karena orang tua dari ketua rombongan ini belum begitu jelas, pada tahun 1920 apakah masuk mondoknya atau di tahun itu keluar dari Pesantren Buduran.


Kalau ditarik pada titik tahun 1920, santri pertama Kiai Abbas (orang tua ketua rombongan dari Yogyakarta) yang nyantri 5 tahun itu, berarti Pesantren Buduran ini ada pada tahun 1915 – 1920 M. Jika Pesantren Al Khoziny ini ada, dengan ditandai adanya santri pertama Kiai Abbas Khozin pada tahun 1920, maka pesantren asuhan Kiai Salam Mujib generasi ketiga ini sudah berusia satu abad lebih empat tahun.

 

Untuk menyakini cerita yang disampaikan Kiai Salam Mujib ini, penulis mencoba mengkonfirmasi kepada Dr Wasid Mansyur MFil (Penulis Buku Biografi KH Abdul Mujib Abbas, Teladan Pecinta Ilmu yang Konsisten, 2012). Dr Wasid mengiyakan apa yang disampaikan Kiai Salam Mujib. Dirinya juga pernah mendengar cerita itu dari Kiai Salam Mujib secara langsung dan dari beberapa alumni sepuh.


 

Wednesday, September 10, 2025

JANGAN BERDEBAT DENGAN BERKARAKTER KELEDAI !

 JANGAN BERDEBAT DENGAN BERKARAKTER KELEDAI !





Pepatah "jangan berdebat dengan keledai" sering digunakan untuk menggambarkan situasi di mana tidak ada gunanya terlibat dalam perdebatan atau argumen dengan seseorang yang keras kepala atau tidak mau mendengarkan alasan.

Buang-buang waktu terburuk adalah berdebat dengan orang bodoh dan fanatik yang tidak peduli tentang kebenaran atau kenyataan, tetapi hanya kemenangan keyakinan dan ilusinya.

Ketika berhadapan dengan kebodohan yang keras kepala, diam adalah pilihan yang cerdas. Kedamaian dan ketenangan jauh lebih berharga daripada memenangkan perdebatan yang tidak akan pernah selesai.


Kisahnya ?

Keledai berkata kepada harimau, "Rumput itu berwarna biru."

Harimau menjawab, "Tidak, rumput itu warnanya hijau."

Diskusi memanas, dan keduanya memutuskan untuk membawa masalah itu ke depan si Raja Hutan.

Mereka menghadap singa, si Raja Hutan. Sebelum mencapai tempat singa duduk di singgasananya, keledai mulai berteriak, "Yang Mulia, benarkah rumput itu warnanya biru?"

Singa menjawab, "Benar, rumput itu berwarna biru."

Keledai bergegas dan melanjutkan, "Harimau itu tidak setuju denganku dan menentang serta menggangguku. Tolong hukum dia."

Raja kemudian menyatakan, "Harimau ini akan mendapatkan hukuman."

Keledai itu pun melompat dengan riang dan melanjutkan perjalanannya, puas dan mengulangi, "Rumput itu warnanya biru."

Harimau menerima hukumannya tetapi bertanya kepada singa, "Yang Mulia, mengapa Anda menghukumku? Lagipula, rumput itu warnanya hijau."

Singa menjawab, "Memang rumput itu warnanya hijau."

Harimau bertanya, "Lalu, mengapa Anda menghukumku?"

Singa menjawab, "Itu tidak ada hubungannya dengan pertanyaan apakah rumput itu warnanya biru atau hijau. Hukumannya adalah karena tidak mungkin makhluk pemberani dan cerdas sepertimu membuang-buang waktu berdebat dengan keledai lalu datang dan menggangguku dengan pertanyaan itu."


---

Pemborosan waktu terburuk adalah berdebat dengan orang bodoh dan fanatik yang tidak peduli dengan kebenaran atau kenyataan, tetapi hanya kemenangan keyakinan dan ilusi mereka.

Jangan pernah membuang-buang waktu untuk argumen yang tidak masuk akal.

Ada orang yang tidak peduli seberapa banyak bukti yang kita berikan, tidak mampu memahami, dan yang lain dibutakan oleh ego, kebencian, dan dendam.

Yang mereka inginkan hanyalah menjadi benar, meskipun sebenarnya tidak.

Ketika ketidaktahuan berteriak, kecerdasan terdiam.

Kedamaian dan ketenangan Anda lebih berharga.